Mengenal Asal-Usul Bukber, Aktivitas Ramadan Yang Digandrungi Anak Muda
Rawpixel
SerbaSerbi

Di bulan suci Ramadan sebagian masyarakat tak ingin ketinggalan akan tradisi bukber. Penasaran asal-usul bukber dan mengapa aktivitas ini begitu diminati anak muda? Simak hanya di laman berikut ini.

WowKeren - Istilah bukber atau buka puasa bersama sering digunakan saat Ramadan tiba. Aktivitas ini seolah menjadi tradisi bagi umat Muslim di Indonesia. Rencana bukber biasanya datang dari rekan kerja, teman sekolah, sahabat bahkan keluarga. Tak cuman kumpul dan buka bersama, tradisi bukber biasanya juga identik dengan momen bagi-bagi makanan gratis.

Bukber awalnya muncul sebagai wujud pertemuan budaya timur dengan ajaran agama Islam. Mengutip HR. Tirmidzi, memberi makan orang berpuasa akan mendatangkan pahala berlipat-lipat.

"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga," bunyi hadis tersebut.

Ajaran Islam dan karakter masyarakat timur yang suka berkumpul ini pun akhirnya memperkuat tradisi bukber. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati.


"Sebelum periode masuknya Islam ke Indonesia pun, kondisi geografis dan karakter masyarakat timur memperkuat tradisi bukber. Kondisi cuaca maupun iklim yang hangat kemudian mendukung karakter ketimuran yang suka berkumpul dan dianggap sudah menjadi bagian dari DNA orang-orang timur," kata Devie.

Devie juga menyebut bahwa tradisi kumpul-kumpul ini memang telah lama melekat di masyarakat Indonesia. Pasalnya, banyak dijumpai ajakan bertemu atau sekadar reuni di luar bulan suci Ramadan.

"Terlepas dari adanya bulan suci Ramadan atau tidak, kita melihat masyarakat kita ketika sudah berdiskusi panjang di media sosial, lalu 'yuk, ketemuan yuk'. Itu menunjukkan ciri dari masyarakat komunal," papar Devie.

Lantas, faktor apa saja yang membuat anak muda begitu antusias dengan aktivitas bukber? Yuk, simak jawabannya!

(wk/Sisi)

1. Tradisi Sekali Setahun


Tradisi Sekali Setahun
Pixabay

Banyak anak muda tak ingin melewatkan bukber. Pasalnya, tradisi ini hanya dilakukan setahun sekali. Karena itu, tradisi bukber perlu dimaknai sebaik-baiknya. Hal itu diungkapkan oleh koresponden UNM.com bernama Jane yang merupakan salah satu mahasiswa Universitas Negeri Makassar.

"Ini momen yang sudah lama ditunggu jadi perlu diperhatikan karena tidak setiap bulan bisa adakan bukber," kata Jane.

2. Ingin Menjalin Silaturahmi


Ingin Menjalin Silaturahmi
Pxhere

Sebagian orang meyakini jika silaturahmi mendatangkan rezeki. Entrepreneur sekaligus public speaker, Chandra Putra Negara juga berpendapat jika silaturahmi mendatangkan banyak hal positif.

"Hubungan silaturahmi itu sesuatu yang mendatangkan rezeki. Dari kita membangun silaturahmi tentunya kita akan mendengarkan informasi, membangun hubungan pertemanan, saling berbagi hal positif," kata Chandra Putra Negara.

3. Menghilangkan Stres


Menghilangkan Stres
Rawpixel

Aktivitas sosial di bulan Ramadan ternyata memiliki dampak positif bagi kesehatan mental. Pendapat itu disampaikan oleh eks Direktur WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama.

"Hubungan sosial dalam Ramadan dapat memberi dampak positif kesehatan mental, termasuk pada masa pandemi Covid-19. Punya efek positif memperbaiki mood serta membantu menangani stres, kegelisahan dan depresi,” kata Tjandra Yoga Aditama.

4. Bentuk Eksistensi Diri


Bentuk Eksistensi Diri
Rawpixel

Bukber biasanya menjadi ajang untuk meningkatkan eksistensi diri. Pasalnya, anak muda cenderung tak ingin ketinggalan tren yang sedang ramai. Paw Research Center mendukung pendapat tersebut.

"Anak muda kerap melakukan sebuah aktivitas demi menunjang eksistensi diri yang tidak jarang ikut-ikutan atau adopting hal yang sedang tren dan akhirnya menjadi budaya," bunyi penelitian dari Paw Research Center.

5. Keinginan Berinteraksi Secara Langsung


Keinginan Berinteraksi Secara Langsung
Pxfuel

Sebagian masyarakat percaya bahwa bertatap muka secara langsung dapat meningkatkan kualitas hubungan. Karena itu, anak muda lebih suka berkumpul dan bercengkerama secara fisik. Pandangan itu didukung oleh peneliti Linda E. Weinberger, Ph.D dari Psychology Today.

"Meskipun kita hidup di era komunikasi multi-mode (misalnya, e-mail, Facetime, panggilan telepon, media sosial, teks), tidak ada pengganti untuk kehadiran fisik dan waktu yang lama untuk dihabiskan bersama. Kesempatan untuk terlibat dalam percakapan yang tidak dibatasi waktu mendorong komunikasi yang lebih dalam," kata Linda E. Weinberger, Ph.D.

So, kalian termasuk orang yang suka menghadiri acara bukber? Bila benar begitu, simak artikel WowKeren selanjutnya tentang tips bukber yang aman di tengah pandemi Covid-19 ya! See you.

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait