Protes Terjadi di Negara Persemakmuran Ketika Inggris Rayakan 70 Tahun Takhta Ratu Elizabeth II
Dunia

Kerajaan tempat Elizabeth II dilahirkan sudah lama berlalu, tetapi dia masih memerintah jauh di luar pantai Inggris. Dia adalah kepala negara di 14 negara lain.

WowKeren - Ratu Elizabeth II akan merayakan tujuh puluh tahun masa pemerintahannya pekan ini melalui serangkaian acara Platinum Jubilee. Namun, ketika Inggris merayakan pesta meriah, negara Persemakmuran menggunakan kesempatan itu untuk mendorong pemutusan resmi dengan monarki dan sejarah kolonial yang diwakilinya.

"Ketika saya berpikir tentang ratu, saya berpikir tentang seorang wanita tua yang manis," kata akademisi Jamaika Rosalea Hamilton, yang mengkampanyekan negaranya untuk menjadi republik. "Ini bukan tentang dia. Ini tentang kekayaan keluarganya, dibangun di atas punggung nenek moyang kita. Kami bergulat dengan warisan masa lalu yang sangat menyakitkan."

Kerajaan tempat Elizabeth II dilahirkan sudah lama berlalu, tetapi dia masih memerintah jauh di luar pantai Inggris. Dia adalah kepala negara di 14 negara lain, termasuk Kanada, Australia, Papua Nugini dan Bahama.

Hingga baru-baru ini ada Barbados yang telah memutuskan hubungan dengan monarki pada bulan November. Sejumlah negara Karibia lainnya, termasuk Jamaika, mengatakan mereka berencana untuk mengikutinya.


Platinum Jubilee Inggris bertujuan untuk mengakui keragaman Inggris dan Persemakmuran. Tetapi citra Inggris tentang dirinya sebagai masyarakat yang ramah dan beragam telah dihancurkan oleh pengungkapan ketika ratusan, dan mungkin ribuan, orang dari Karibia yang telah tinggal secara legal di Inggris selama beberapa dekade ditolak dalam mendapatkan perumahan, pekerjaan atau perawatan medis.

Adapun hal itu dikarenakan mereka tidak memiliki dokumen untuk membuktikan status mereka. Dan pada beberapa kasus, melansir Associated Press, ada yang dideportasi. Meski pemerintah Inggris telah meminta maaf dan setuju untuk membayar kompensasi, namun skandal Windrush telah menyebabkan kemarahan yang mendalam, baik di Inggris maupun di Karibia.

Pangeran William dan Kate Middleton juga telah berkunjung ke Jamaika dan Bahama Maret lalu. Namun, foto pasangan itu yang berjabat tangan dengan anak-anak melalui pagar rantai dan mengendarai Land Rover beratap terbuka dalam parade militer justru membangkitkan gema kolonialisme bagi banyak orang.

Para pengunjuk rasa di Jamaika menuntut Inggris membayar ganti rugi atas perbudakan. Sementara itu, pejabat Inggris berharap negara-negara yang menjadi republik akan tetap berada di bawah Persemakmuran.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait