Seorang pria asal Austria divonis 15 tahun penjara atas rencana serangan di konser Taylor Swift.
- Minggu, 31 Mei 2026 - 00:01 WIB
WowKeren - Seorang pria berusia 21 tahun asal Austria yang dikenal dengan nama Beran A. dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena merencanakan serangan teroris di konser Taylor Swift yang berlangsung di Wina pada tahun 2024. Keputusan ini diambil setelah persidangan yang berlangsung pada hari Kamis, di mana Beran A. dinyatakan bersalah atas tuduhan merencanakan serangan tersebut.
Pada kesempatan itu, Beran A. mengungkapkan penyesalannya di hadapan pengadilan. "Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya menyesal," ujarnya. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat, 19 Mei 2026, setelah sidang ditutup untuk pembacaan putusan.
Awal bulan April, Beran A. mengakui kesalahannya saat persidangan dimulai. Ia menghadapi beberapa dakwaan terkait terorisme dan keterlibatan dalam organisasi teroris setelah diduga menyatakan kesetiaan kepada kelompok ISIS. Jaksa menuduhnya berencana melakukan serangan terhadap penggemar Taylor Swift dengan menggunakan pisau dan bahan peledak rakitan di Stadion Ernst Happel, Wina. Sejak Agustus 2024, ia telah ditahan oleh pihak berwenang.
Pengacara Beran A., Anna Mair, menjelaskan di luar ruang sidang bahwa kliennya sangat menyesali tindakannya. "Dia sangat menyesali semuanya. Dia mengatakan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya," ungkapnya. Selain Beran A., dalam persidangan juga terdapat seorang pria lain bernama Arda K. Keduanya diduga merencanakan serangan bersama seorang pria ketiga yang berada di Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab selama bulan Ramadan. Namun, hanya Beran A. yang didakwa terkait rencana serangan di konser Taylor Swift.
Beran A. membantah dakwaan mengenai rencana serangan serentak di beberapa negara tersebut. Kasus ini mengejutkan dunia hiburan internasional, terutama karena konser yang direncanakan tersebut menarik perhatian puluhan ribu penggemar Taylor Swift yang datang ke Austria untuk menyaksikan tiga konser bagian dari tur The Eras Tour pada Agustus 2024. Namun, konser tersebut terpaksa dibatalkan setelah pihak aparat menemukan dugaan rencana serangan yang mengancam keselamatan para penggemar.
(wk/timw)