Surat edaran Kapolri yang dikeluarkan beberapa waktu lalu membuat reaksi beragam dari para netter.
- Tim WowKeren
- Jumat, 06 November 2015 - 09:45 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu, kapolri Badrodin Haiti telah menandatangani Surat Edaran (SE) Kapolri Nomor SE/06/X/2015 tentang ujaran kebencian atau hate speech. Belum genap sebulan, surat edaran tersebut rupanya menarik banyak reaksi dari netter.
Dilansir dari Kompas, sebuah lembaga di bidang intelijen media, Indonesia Indicator (I2), yang melakukan analisis data dan kajian strategis dengan menggunakan software AI (Artificial Intelligence) mencatat ada 12.024 kicauan di Twitter yang membahas tentang surat edaran tersebut. Analisis ini dilakukan selama 2 minggu terakhir, hingga 5 November 2015 pukul 18.30.
"Terutama di empat hari terakhir, isunya mencapai 10.229 tweet," ungkap Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustica Herlambang, Kamis (5/11). Menurutnya, tweet yang mengungkapkan kemarahan mendominasi tanggapan soal SE tersebut. Baru kemudian disusul oleh anticipation (mengingatkan, hati-hati, awas) dan disgust (benci, kecewa, memalukan, kemunafikan, dan sebagainya).
"Ada upaya trust (kepercayaan) yang sifatnya lebih sinis terhadap adanya ujaran tersebut," imbuh Rustika. Munculnya sentimen negatif di twitter terhadap SE tersebut terjadi akibat strategi komunikasi.
Rustika juga menjelaskan jika isu tentang ujaran kebencian ini sudah pernah disampaikan oleh Yenny Wahid melalui Wahid Institute awal Januari 2012. Saat itu, terjadi gesekan antara jemaat gereja HKBP Filadelfia dengan warga.
"Pernyataan Kapolri sebenarnya pada esensi situasi-situasi seperti ini," sambung Rustika. "Punya tujuan yang baik, untuk menekan praktik-praktik terjadinya pelecehan SARA, dan bentuk intoleransi lainnya, seperti kasus Tolikara."
"Namun, di ranah Twitter situasi itu dipersepsikan untuk membungkam kebebasan berpendapat," ujar Rustika. Dia pun menambahkan, di Twitter situasi emosi lebih mudah terbaca karena sifatnya yang spontan dari para netter.
(wk/)