Aksi Heroik Bayu, Penghadang Bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya
Facebook
Nasional

Aksi Bayu dianggap telah berhasil menyelamatkan banyak jemaah di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya

WowKeren - Teror bom yang meledak di tiga gereja Surabaya pada Minggu (13/5) pagi masih menyisakan sejumlah kisah duka bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Tragedi yang baru pertama kali terjadi di kota Surabaya tersebut hingga saat ini telah menewaskan 13 orang.

Kisah heroik Aloysius Bayu Rendra Wardhana mulai dibicarakan publik melalui pesan berantai di media sosial. Bayu merupakan seorang relawan Gereja Santa Maria Tak Bercela yang menghadang motor pelaku pengeboman saat peristiwa itu terjadi.

Dari rekaman CCTV, Bayu melihat dua orang laki-laki pengendara motor dengan gelagat mencurigakan yang mencoba masuk gereja. Saat Bayu berusaha menghentikan pengendara motor tersebut, bom yang dibawa pelaku meledak dan menghancurkan tubuhnya.

Aksi Bayu disebut berhasil mencegah pelaku meledakkan bom di dalam gereja yang beralamatkan di Jalan Ngagel Madya Nomor 1, Gubeng, Surabaya tersebut. Bayu meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih balita.

Hingga saat ini, akun Facebook milik Bayu masih dibanjiri ungkapan duka dari sejumlah kerabat. Tulisan duka istri Bayu juga menjadi viral di media sosial. Pada akun Facebook miliknya, istri Bayu menuliskan pesan untuk dua anaknya, Aaron dan Alyssia, agar bangga pada pengorbanan sang ayah.


"Hai Aaron dan Alyssia, suatu saat ketika kalian besar nanti dan ditanya oleh sekelilingmu, mana papamu," tulis istri Bayu. "Kalian dengan bangga akan menjawab, papaku di surga dengan Allah Bapa karena dia jadi martir di gereja."


Ungkapan Duka Istri Bayu

Facebook

Minggu (13/5) malam, para pengurus dan jemaah Gereja Santa Maria Tak Bercela menggelar misa di rumah Bayu. Salah satu pastur yang memimpin misa doa meminta jemaah untuk tidak takut dan mengingatkan agar tidak timbul rasa benci terhadap pelaku.

"Jangan ikut menyebarkan, lebih baik berdoa dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan," tutur Pastur tersebut. "Sebab, mereka (pelaku) juga korban ketidaktahuan."

Menurut Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, bom yang digunakan pelaku merupakan jenis bom yang dipangku. Hingga saat ini, pihak Laboratorium Forensik Polri masih melakukan pengecekan untuk mengetahui bahan peledak yang digunakan para pelaku.

Ledakan bom yang terjadi di tiga gereja Surabaya dilakukan satu keluarga yang diduga merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Tito menjelaskan bahwa serangan bom di Gereja Pantekosta dilakukan seorang pria yang bernama Dita Upriyanto. Sedangkan serangan bom di GKI Diponegoro diduga dilakukan istri dan dua anak perempuan Dita, yaitu Puji Kuswati serta FS (12 tahun) dan VR (9 tahun). Selanjutnya, pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan dua anak laki-laki Dita, yaknisuf Fadil (18 tahun) dan FH (16 tahun).

(wk/nere)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!