Masuki Level Siaga III, Badan Geologi Tegaskan Gunung Anak Krakatau Tidak Dalam Fase Mematikan
Nasional

Badan Geologi menjelaskan mengenai beberapa potensi bahaya yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

WowKeren - Setelah sempat mengeluarkan awan panas hingga hujan abu vulkanik, status Gunung Anak Krakatau kini memasuki level Siaga III. Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa status Gunung Anak Krakatau masih memasuki level Waspada. Namun, serangkaian peningkatan aktivitas yang signifikan membuat level Gunung Anak Krakatau naik.

Berdasarkan pantauan PVMBG, cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau pada Kamis (27/12) kemarin terpantau mendung dan hujan. Sementara itu, juga terdengar suara dentuman di pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau (PGA).

Terkait dengan peningkatan aktivitas ini, para wisatawan dan juga warga sekitar diharap untuk menjauhi hingga radius 5 km dari kawah. "Zona berbahaya diperluas dari 2 kilometer menjadi 5 kilometer. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.


Kendati peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus terpantau, namun Badan Geologi Kementerian ESDM meminta masyarakat untuk tidak cemas, namun tetap waspada. Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo, menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau tidak dalam fase yang berbahaya. “Satu hal, (Gunung) Anak Krakatau tidak benar masuk dalam fase mematikan,” ujar Antonius Ratdomopurbo pada Kamis (27/12) kemarin.

Antonius juga mengimbau kepada masyarakat untuk melindungi diri dengan mengenakan masker saat terjadi hujan abu. “Sehubungan dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) tersebut, masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Saat hujan abu turun, masyarakat diminta untuk mengenakan masker dan kaca mata bila beraktivitas di luar rumah," lanjut Antonius.

Untuk saat ini, Antonius menjelaskan beberapa potensi bahaya yang terjadi akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Di antaranya seperti lontaran material pijar, aliran lava dan juga awan panas yang mengarah ke selatan. Untuk penyebaran abu vulkanis masih tergantung dengan arah dan kecepatan angin yang berhembus di sekitar Gunung Anak Krakatau.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait