Terganjal Anggaran Pemerintah, BMKG Akui Gagal Meyakinkan Potensi Tsunami di Indonesia
Nasional

Sempat mengusulkan permintaan alat pendeteksi dini tsunami, BMKG mengaku proposal mereka terganjal di Kementerian Keuangan.

WowKeren - Tsunami di Selat Sunda yang menewaskan ratusan orang pada Sabtu (22/12) kemarin masih menjadi perhatian. Pasalnya, tsunami yang salah satu sebabnya terjadi karena longsoran Gunung Anak Krakatau tersebut masih terus diwaspadai. Bahkan, saat ini Gunung Anak Krakatau diketahui telah meningkat statusnya menjadi Siaga level III.

Tsunami Selat Sunda menelan banyak korban, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat menjadi perhatian lantaran dinilai tak profesional. Menanggapi hal ini, BMKG menyatakan bahwa alat-alat yang mereka miliki tak terlalu mendukung gempa dan aktivitas lain yang berkaitan dengan vulkanik. BMKG mengakui bahwa mereka hanya memiliki sensor gempa tektonik.

Kendati demikian, BMKG mengakui bahwa pihaknya telah gagal meyakinkan adanya potensi ancaman tsunami pada pemerintah. Alat-alat yang dimiliki BMKG juga sangat kurang dan sebagian teknologinya sudah tertinggal.


Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa keterbatasan anggaran menjadi salah satu penghalang dipenuhinya alat-alat pendeteksi gempa dan tsunami di Indonesia. "Padahal potensi ancaman tsunami di tanah air sebetulnya sudah dipetakan sejak 2001. Tapi pengadaan berbagai peralatan deteksi dini yang amat diperlukan tak kunjung dipenuhi pemerintah karena keterbatasan anggaran," ujar Dwikorita seperti dilansir Detik pada Jumat (28/12).

Dwikorita mengatakan bahwa BMKG sebenarnya sudah berhasil mengajukan proposal pengadaan anggaran untuk membeli berbagai peralatan pendukung deteksi gempa dan tsunami. Sayang, proposal yang sudah mendapatkan persetujuan Presiden Joko Widodo itu terganjal anggaran negara.

Wanita yang pernah menjadi rektor UGM ini menyampaikan penyesalannya tak bisa meyakinkan pemerintah untuk segera mengadakan alat-alat pendeteksi dini gempa dan tsunami. "Saya kalau melihat korban kemarin itu, duh... Kenapa kok kemarin kami tidak bisa meyakinkan itu harus dipasang segera," terang Dwikorita.

Hingga saat ini, BMKG dan beberapa pihak lainnya masih terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan pantauan, terdapat peningkatan aktivitas yang signifikan pada gunung yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra tersebut.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait