Sebagai mantan Danjen Kopassus, Agum Gumelar tidak setuju jika ada kelompok tertentu mendukung Prabowo dengan mengatasnamakan Cijantung.
- Wahyu
- Rabu, 06 Februari 2019 - 13:10 WIB
WowKeren - Mendekati Pilpres, semakin banyak kelompok masyarakat dari berbagai kalangan yang mendeklarasikan dukungan mereka untuk Paslon jagoannya. Seperti kelompok yang menyebut diri mereka Bravo Cijantung.
Ratusan relawan Bravo Cijantung telah mendeklarasikan dukungan mereka untuk Paslon nomor urut 01, Joko Widodo alias Jokowi-Ma'ruf Amin pada Selasa (5/2). Mereka mengklaim diri mereka sebagai anak-anak purnawirawan TNI.
Acara deklarasi tersebut dihadiri oleh mantan Komandan Jenderal Kopassus Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar. Dalam deklarasi tersebut, Agum sempat mengatakan bahwa selama ini Cijantung kerap diidentikkan dengan Kopassus. Yang mana, hal ini juga tak jarang diidentikkan dengan Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto. Oleh sebab itu, dalam kesempatan tersebut Agum ingin menegaskan bahwa hal itu sama sekali tidak benar.
"Selama ini Cijantung diidentikkan dengan Kopassus," kata Agum di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Selasa (5/2). "Kopassus diidentikkan dengan Prabowo Subianto. Hal itu tidak benar."
Agum kemudian menjelaskan tentang istilah "anak Cijantung". Istilah itu dikatakan Agung, merujuk pada sejumlah kompleks militer. Tak hanya Kopassus, namun juga dari berbagai satuan AD, Kostrad, Kavaleri, dan Paspampres.
Saat ini, Agum beserta sejumlah danjen Kopassus bertempat tinggal di rumah dinas yang ada di Cijantung II. Adapun Cijantung II merupakan kompleks pament/pati AD yang berasal dari berbagai kesatuan.
Dalam deklarasi tersebut, Agum ingin menegaskan pada publik tentang dukungannya di Pilpres nanti. Sebab, ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang muncul karena adanya kelompok tertentu yang mendukung Paslon nomor urut 02 namun mengatasnamakan Cijantung.
"Deklarasi ini dimaksudkan untuk menyangkal dari kelompok-kelompok," jelas Agum. "Yang mendukung Paslon 02 yang mengatasnamakan seluruh anak Cijantung."
Sebagai pendukung Jokowi, Agum mengatakan bahwa pro dan kontra adalah hal yang biasa, mengingat Indonesia merupakan negara yang menganut asas demokrasi. Sehingga, pasti ada pihak yang suka maupun tidak suka dengan pemerintah.
"Kita harus dukung kembali Pak Jokowi di periode kedua. Tapi saya ingin juga kita dewasa," tutur Agum. "Di negara yang berasas demokrasi, pro kontra itu soal biasa. Suka atau tidak suka itu soal biasa. Ada yang pro pemerintah, ada yang tidak suka pemerintah."
(wk/wahy)