Menko Perekonomian Sebut Impor Tinggi Karena Banyak Bangun Infrastruktur
Instagram/perekonomianri
Nasional

Neraca perdagangan Indonesia kian alami defisit lantaran nilai impor masih lebih tingi dari ekspor.

WowKeren - Kondisi neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit selalu berhasil menjadi sorotan. Defisit yang besar disebabkan salah satunya karena nilai ekspor yang tidak seimbang dengan impor. Saat ini, jumlah impor jauh lebih besar dibandingkan ekspor.

Menteri Perekonomian Darmin Nasution ikut angkat bicara mengenai hal ini. Menurut Darmin, angka impor yang tinggi tak lepas dari faktor pembangunan infrastruktur.

Seperti yang diketahui saat ini, pemerintah sangat gencar membangun infrastruktur. Menurut Darmin, perlu adanya perancangan kebijakan untuk menangani isu-isu tersebut dua tahun sebelumnya.

"Impor tinggi karena kita bangun infrastruktur banyak," kata Darmin di depan para dubes Indonesia di kantornya, Jakarta Pusat pada Rabu (6/2). "Jadi sebenarnya itu sebetulnya kita bisa baca 2 tahunan lalu sehingga kita sudah rancang kebijakan untuk menghadapi itu."

Salah satu impor yang masih tinggi adalah pada sektor migas. Darmin mengatakan bahwa sejak sepuluh tahun terakhir, Indonesia kian mengalami defisit pada sektor ini. Sebab, jumlah yang diekspor masih jauh lebih kecil daripada yang diimpor.


"Ada satu hal yang memang tapi ini agak panjang ceritanya, ekspor kita tidak terlalu bagus bersamaan dengan kita sejak 10 tahun terakhir itu di migas kita defisit," sebutnya.

Darmin juga menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia sudah baik arahnya. Hal tersebut dilihat dari tingkat pertumbuhan inflasi, pengangguran, dan kemiskinan.

"Nah jadi kalau dilihat tadi pertumbuhan inflasi, tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, kemudian gini ratio itu boleh dikatakan pertumbuhan ekonomi kita perkembangannya kualitasnya baik," papar Darmin. "Karena nggak mudah itu gabung semuanya membaik sekaligus."

Perlu diketahui, angka kemiskinan di Indonesia sudah mengalami penurunan. Pada 2018 lalu, kemiskinan negeri ini berada di angka 9,66 persen. Yang mana, angka ini adalah yang terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Menurunnya angka kemiskinan tersebut mengikuti penurunan jumlah penduduk miskin. Sejak September 2017 hingga Maret 2018, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 910 ribu orang.

Prestasi itu juga tak lepas dari jerih payah pemerintah dalam menekan laju inflasi. Pemerintah mampu menekan harga barang dan jasa sekitar tiga persen selama empat tahun terakhir.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait