Partai Berkarya buka suara tentang Prabowo yang menyebut bahwa pembangunan Indonesia sudah keliru sejak masa Orde Baru.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 07 Februari 2019 - 17:36 WIB
WowKeren - Calon Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut bahwa pembangunan Indonesia sudah keliru sejak masa Orde Baru. Hal tersebut, menurut Prabowo, disebabkan oleh para elite yang tidak berguna dan gagal mengelola bangsa.
Menanggapi hal tersebut, Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto pun buka suara. Ketua DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, menyatakan dirinya tidak setuju dengan pernyataan Prabowo.
Menurut Badar, konsep pembangunan ala Soeharto justru keliru apabila tidak dilanjutkan. Ia pun menyebut wacana trilogi pembangunan.
"Yang keliru, wacana trilogi pembangunan tidak dilanjutkan," ujar Badar dilansir CNNIndonesia, Kamis (7/2). Trilogi pembangunan tersebut meliputi stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta pemerataan pembangunan beserta hasil-hasilnya.
Konsep tersebut, menurut Badar, sangat baik bagi Indonesia. Apalagi dulu mendiang Soeharto telah berhasil melaksanakan pembangunan berkelanjutan serta swasembada pangan lewat konsep tersebut.
"Coba konsep pembangunan Pak Harto dilanjutkan," terang Badar. "Kita sudah masuk era tinggal landas."
Ia menegaskan bahwa Partai Berkarya akan memperjuangkan visi Soeharto. Salah satu langkah yang akan ditempuh agar visi tersebut dapat diterapkan kembali adalah melalui jalur parlemen.
Partai Berkarya sendiri masuk dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019. Oleh karena itu, apabila paslon nomor urut 02 terpilih, Partai Berkarya akan bisa masuk ke Parlemen untuk memberi masukan terkait pembangunan.
"Kalau Pak Prabowo presiden kan, ada kami (Partai Berkarya) di parlemen," tutur Badar. "Mengingatkan arah pembangunan yang benar."
Diketahui, Prabowo memang kerap memberi kritik terhadap pemerintah. Tak hanya soal pembangunan, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut juga sempat mengkritik utang negara yang dinilainya menumpuk dan tak kunjung habis.
Tak hanya itu, Prabowo juga sempat menyebut Menteri Keuangan sebagai Menteri pencetak utang. Atas pernyataan tersebut, Prabowo menerima cukup banyak kritikan. Menkeu Sri Mulyani juga sempat membalas Prabowo dengan sebuah puisi.
(wk/Bert)