Pemerintah Jelaskan Alasan Tarif Tol Trans Jawa Mahal Usai Dikritik BPN Prabowo
Nasional

Sebelumnya, BPN Prabowo mengkritisi tarif tol Trans Jawa yang dinilai termahal se-ASEAN dan beri dampak negatif pada perekonomian.

WowKeren - Pembangunan tol Trans Jawa di era pemerintahan Presiden Joko Widodo mendapatkan kritikan dari kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka menilai, tarif yang ditetapkan untk tol tersebut terlalu mahal. Bahkan, kubu Prabowo menyebutkan bahwa tarif tol Trans Jawa merupakan yang termahal se ASEAN.

Akan tetapi, tudingan ini dibantah oleh Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla. Ia justru menyebut jika tol di Indonesia merupakan yang termurah.

Menjelaskan mengenai tarif tol Trans Jawa yang mahal, Chief Executive Officer (CEO) dari Pembiayaan Investasi Non Anggaran (PINA) Center, Eko Putro Adijayanto buka suara. Menurutnya, tarif mahal tol Trans Jawa diakibatkan karena lamanya penundaan proyek hingga direalisasikan. Naiknya harga lahan maupun material selama masa pembangunan juga menjadi alasannya.

Kendati demikian, Eko menyatakan jika pemerintah siap menanggung konsekuensinya. Hal tersebut memang harusnya dilakukan hingga tuntas lantaran harga pengerjaan proyek akan semakin meningkat jika ditunda lebih lama lagi.


"Kami melihatnya lebih karena suatu langkah yang tertunda sudah sangat lama, akhirnya harus diambil sekarang, better late than never," ungkap Eko di Hotel Aloft, pada Jumat (8/2) kemarin. "Apakah kita akan terus menunda sampai titik daya saing kita akan selamanya menjadi potensi?"

Apalagi, menurut Eko, pembangunan jalan tol yang setengah-setengah juga hanya akan membuat pengguna jalan tetap menggunakan jalan biasa. "Karena orang akan memilih lewat jalan biasa kalau bangunnya sepotong. Jadi kalau bangun memang harus end to end, itu yang ditempuh pemerintah sekarang," pungkas Eko.

Mengamini pernyataan Eko, Deputi III Kepala Staff Kepresidenan, Denni P Purbasari menjelaskan keuntungan tol Trans Jawa. Denni menyebut bahwa dengan adanya Trans Jawa, pengguna bisa memangkas waktu tempuh perjalanan menjadi lebih singkat.

"Misalnya, semula mereka mungkin mengirim barang dari Surabaya ke Jakarta membutuhkan waktu dua hari, artinya menyewa truk dua hari, tapi mungkin dengan adanya tol jadi 12 jam," tutur Denni. "Jadi kalau kita pikirkan keuntungan jangka pendek maka tidak akan ada pembangunan infrastruktur."

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait