Tak Dibayar Uniqlo, Penjahit Tanah Air Gelar Demo di Tokyo
scmp.com
Nasional

Kasus bermula sejak 2014 silam ketika Uniqlo memesan produk dari Jaba Garmindo di Bekasi yang beberapa bulan kemudian menarik pesanan tersebut tanpa membayar sesuai kesepakatan.

WowKeren - Penggemar fashion Jepang pasti sudah tak asing lagi dengan nama brand Uniqlo. Bagi sejumlah orang, bahan pakaian Uniqlo dianggap lain dari yang lain. Selain tahan lama, Uniqlo adalah pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin tampil minimalis namun tetap stylish.

Tak hanya itu, nilai plus Uniqlo di mata para pecinta fashion adalah kampanye sustainability yang kerap digaungkan oleh perusahaan ritel ini. Uniqlo mengklaim bahwa dalam kegiatan produksi yang dilakukan, mereka tetap merujuk pada tanggung jawab perusahaan di bidang lingkungan dan sosial, termasuk memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Namun, yang terjadi belum lama ini justru sebaliknya, dimana Uniqlo dituding tidak membayar upah penjahit Indonesia yang telah bekerja membuat produk-produk Uniqlo. Dalam situs Clean Clothes, sebuah aliansi yang berjuang menyerukan hak-hak pekerja garmen, disebutkan bahwa Uniqlo sebagai pembeli terbesar pabrik Jaba Garmindo di Indonesia justru tidak membayar apa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Persoalan bermula ketika Uniqlo memesan produk dari Jaba Garmindo pada akhir Desember 2014 silam. Kala itu, Uniqlo melakukan order dari pabrik tersebut. Beberapa bulan setelahnya, Uniqlo menarik pemesanan tersebut tanpa melakukan pembayaran sesuai yang sudah disepakati.


Tak lama setelah itu, Jaba Garmindo harus gulung tikar dan memulangkan para pekerjanya. Adapun 80 persen pekerja di sana adalah kaum perempuan. Clean Clothes menyebut bahwa jumlah yang harus dbayarkan Uniqlo mencapai 5,5 juta dolar AS.

"Sumber dari pabrik menyebutkan bahwa Uniqlo adalah pembeli utama pabrik Jaba Garmindo di Indonesia," bunyi statement pada situs Clean Clothes, Selasa (2/4). "Yang ditutup tak lama setelah brand ini mulai menarik pesanan tanpa peringatan atau penjelasan kepada para pekerja di sana."

Peristiwa ini bertolak belakang dengan kampanye Uniqlo yang menyerukan sustainability. Bagaimana mungkin perusahaan yang menggembar-gemborkan sustainability justru lalai dalam memenuhi hak-hak pekerjanya?

"CEO Uniqlo ingin dunia percaya bahwa UNIQLO berbeda dari kebanyakan merek mode global," lanjut pernyataan pada situs Clean Clothes. "Bahwa UNIQLO adalah khas, unik, dan berkelanjutan. Tetapi bagaimana Anda bisa mewujudkan hal itu jika Anda sendiri enggan membayar orang-orang yang sudah membuat pakaian Anda?"

Dua orang pekerja Jaba Garmindo, Warni Napitupulu dan Tedy Senadi Putra akhirnya menggelar demo di Tokyo pada 2018. Sayangnya, demo tersebut tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Mereka pun berencana untuk menggelar kembali demo di Copenhagen, Denmark pada Jumat (5/4). Momen ini bertepatan dengan dibukanya cabang baru Uniqlo di kota tersebut.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait