Jenazah Hariadin telah tiba di pangkalan militer Westmincom di Zamboanga City pada Sabtu (6/4) ini untuk diserahkan pada perwakilan Indonesia. Ia diculik bersama WNI lainnya, Heri Ardiansyah.
- Nur Islamiyah
- Sabtu, 06 April 2019 - 20:43 WIB
WowKeren - Seorang warga negara Indonesia (WNI) Hariadin tewas di perairan Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina Selatan setelah disandera oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Hariadin tewas akibat tenggelam di laut setelah bebas dari penyanderaan.
Hariadin dan Heri Aridiansyah, seorang WNI lainnya, dikatakan berusaha berenang ke Pulau Bangalao guna menghindari serangan angkatan bersenjata Filipina terhadap penyandera. Heri Ardiansyah dapat diselamatkan sementara Hariadin tewas.
Pemerintah Indonesia menyampaikan ungkapan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum Hariadin," ujar Iqbal melalui keterangan tertulis, seperti dikutip dari Kompas. "Kementerian Luar Negeri telah berkomunikasi dengan keluarga kedua WNI di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dan di Sandakan, Malaysia, mengabarkan peristiwa tersebut."
Jenazah Hariadin telah tiba di pangkalan militer Westmincom di Zamboanga City pada Sabtu (6/4) ini untuk diserahkan pada perwakilan Indonesia. Selanjutnya, proses pemulangannya akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.
"Hari ini Heri Ardiansyah dan jenazah Hariadin telah tiba di pangkalan militer Westmincom di Zamboanga City untuk diserahterimakan kepada wakil Pemerintah Indonesia," katanya. "Selanjutnya Pemerintah Indonesia akan melakulan proses pemulangan ke Indonesia pada kesempatan pertama."
Heri Ardiansyah dan Hariadin diketahui diculik bersama seorang WN Malaysia, Jari Abdullah. Mereka diculik sejak 5 Desember 2018 lalu saat sedang bekerja di kapal penangkap ikan SN259/4/AF.
"Sejak tahun 2016, sebanyak 36 WNI disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan," katanya. "Dari jumlah tersebut seluruhnya berhasil dibebaskan, namun satu orang sandera WNI meninggal dalam proses pembebasan tersebut."
Hariadin telah merantau bersama keluarganya dan bekerja di Malaysia sejak 2012. Ia masih terdaftar sebagai warga Dusun La Bantea, sebagaimana tercantum dalam kartu keluarga (KK) miliknya yang dikeluarkan pada 16 Januari 2018. Ia tercatat memiliki seorang istri dan tiga anak laki-laki.
Sebelumnya, sempat beredar video penyanderaan WNI oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina ramai dibahas di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat seorang pria yang berada di dalam sebuah lubang tanah. Di sekelilingnya terdapat beberapa orang yang menodongkan senjata api kepadanya.
(wk/nris)