Voxpol Center Research And Consulting meragukan efektivitas kampanye terbuka yang digelar masing-masing Paslon karena berdasarkan hasil survei, rakyat lebih menyukai metode dialog secara langsung.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 08 April 2019 - 17:29 WIB
WowKeren - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memulai kampanye terbuka bagi masing-masing Paslon sejak April lalu. Masing-masing kandidat Capres dan Cawapres pun gencar menyapa para pendukung dari satu titik ke titik lainnya di seluruh Indonesia. Namun, metode berpolitik secara terbuka ini justru dianggap tidak efektif.
Adalah Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, yang meragukan efektivitas kampanye terbuka. Sebab menurutnya, kampanye akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan tatap muka secara langsung dengan menggelar dialog.
Pangi menilai adanya kampanye terbuka hanya akan membuat masing-masing kubu saling bersaing untuk mendapatkan massa terbanyak. Padahal menurutnya, cara seperti ini adalah kampanye gaya lama yang kurang begitu efektif.
Adapun dalam survei yang dilakukan oleh Voxpol Center Research and Consulting, masyarakat justru lebih menyukai metode kampanye yang melibatkan tatap muka antara kandidat Capres-Cawapres dengan masyarakat secara langsung. Sebesar 51,6 persen responden memilih bentuk kampanye yang seperti ini. Sedangkan jumlah responden yang memilih kampanye terbuka dengan melibatkan massa hanya berkisar 10,8 persen.
Lebih jauh, Pangi menilai bahwa kampanye terbuka tidak terlalu memberikan hasil yang signifikan terhadap perolehan suara. Sebab, pada umumnya masyarakat datang ke lokasi kampanye karena adanya mobilisasi sehingga kampanye terbuka cenderung dianggap sebagai hiburan rakyat.
"Karena kampanye terbuka tidak terlalu disukai pemilih maka cenderung dimobilisasi dan pengaruhnya juga tidak terlalu signifikan," kata Pangi dilansir dari Republika, Senin (8/4). "Selain memang kampanye terbuka sebagai pertunjukan hiburan rakyat."
Pangi juga menuturkan selain digunakan sebagai ajang gagah-gagahan, kampanye terbuka tidak selalu menunjukkan bahwa mereka yang hadir sudah pasti mendukung kandidat yang melakukan kampanye. Dikatakannya, tak sedikit massa yang hadir karena ikut-ikutan saja.
"Mereka yang hadir sebagian besar sudah dipastikan akan mendukung kandidat yang bersangkutan, sisanya mereka hanya ikut-ikutan," terang Pangi. "Dan yang pasti model kampanye semacam ini tidak akan menambah asupan elektoral yang signifikan terhadap kandidat."
(wk/zodi)