Muhammad Sai Mengaku Sengaja Memviralkan Aksi Pembakarannya Melalui Live Facebook Supaya Presiden Joko Widodo Tahu Masih Ada Aparat Desa yang Tak Melayani Rakyat di Pinrang, Sulawesi Selatan.
- Nur Khotimah
- Sabtu, 04 Mei 2019 - 09:23 WIB
WowKeren - Desa Mallongi-longi dibuat panik karena kantor desanya dibakar. Adalah Muhammad Sai alias Lasade, pria difabel berusia 42 tahun yang menjadi aktor utama aksi pembakaran tersebut. Uniknya pelaku sengaja memviralkan aksinya melalui fitur live di akun Facebook Lagaligo miliknya.
Ketika dikonfirmasi di Mapolres Pinrang, Sai mengaku nekat memviralkan aksinya supaya sampai ke telinga Presiden Joko Widodo. Ia menuturkan alasan utamanya membakar kantor desa adalah karena kesal melihat banyaknya aparat yang tak melayani rakyat sebagaimana mestinya. Dalam aksi pembakarannya, Sai meminta kepada Jokowi supaya melihat bahwa masih ada aparat pelayan masyarakat yang hanya main-main dalam menjalani pekerjaannya.
”Saya kesal karena tak dapat pelayanan yang baik,” ungkap Sai di Mapolres Pinrang, Sulawesi Selatan, Jumat (3/5). “Selain itu, saya live di Facebook agar pesan banyak aparat kotor di Indonesia sampai ke Presiden Joko Widodo.”
Dalam live Facebook-nya, pemilik akun Lagaligo ini juga mengaku sebagai pendukung Jokowi. Ia juga meminta maaf karena nekat melakukan aksi pembakaran tersebut.
”Pak Jokowi, saya pendukung berat Anda. Saya penyandang difabel,” ujar Sai dalam video viralnya. “Saya minta maaf. Inilah kelakukan yang ada di desa. Mereka para aparat hanya mengurus proyek-proyek miliaran tanpa mengurus warganya.”
Menurut pengakuan Sai, ia berencana membakar Kantor Kecamatan Lanrisang setelah membakar Kantor Desa Mallongi-longi. Namun aksinya ini segera dicegah oleh warga sekitar dan aparat Kepolisian Resort Kabupaten Pinrang.
Sebelumnya Muhammad Sai diringkus Polres Kabupaten Pinrang setelah membakar Kantor Desa Mallongi-longi hingga membuat sebagian besar kantor tersebut hangus. Ketika diselidiki, Sai mengaku kesal karena Akta Jual Beli (AJB) tanahnya yang tak kunjung diterbitkan oleh Kepala Desa Mallongi-longi padahal sudah diurus sejak Februari 2019. Sai juga menyebut bahwa dia harus bolak-balik dari Palu, Sulawesi Tengah ke Pinrang hanya demi mengurus AJB tersebut.
”Saya emosi, Pak. AJB tanah saya digantung oleh Kepala Desa,” ungkap Sai. “Ini yang membuat saya marah dan membakar kantor desa.”
Tak hanya karena AJB-nya yang ditahan sang Kepala Desa, Sai juga kesal karena ada bantuan yang tak kunjung cair. Ia menyebut ada dua kelompok yang seharusnya menerima bantuan tersebut yakni Kelompok Tani dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Menurutnya Kelompok Tani seharusnya menerima bantuan berupa pompa untuk petani bawang merah yang sampai sekarang belum terealisasi, sementara PPDI seharusnya menerima dana sebesar Rp 25 juta untuk Atlet Pra-Porda Disabilitas. “Kekecewaan itu semua menumpuk, Pak,” pungkas Sai.
(wk/nur2)