Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, menjelaskan peran penting para Ulama dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dan menyinggung pihak yang sekarang justru anti-NKRI.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 08 Mei 2019 - 16:31 WIB
WowKeren - Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, mengaku heran dengan adanya sejumlah Ulama yang anti persatuan dan anti-NKRI. Ryamizard pun lantas menjelaskan peran penting para Ulama dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, para Ulama tersebut bersatu pada masa kolonial demi merebut kemerdekaan Indonesia.
"Jadi, Islam di Indonesia yang damai ini memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sejak zaman Belanda," jelas Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan pada Rabu (8/5). "Tiga setengah abad, para Ulama bersama umatnya tidak pernah surut melakukan perlawanan dalam kolonial Belanda."
Menurut Ryamizard, peran Ulama dulu memang sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan. "Karena itu, ulama tersebar di seluruh penjuru Indonesia jadi tokoh perlawanan penjajah Belanda. Nah ini saking kuatnya, heran orang Belanda ini sampai mereka belajar bahasa Arab," ungkap Ryamizard.
Berkat kegigihan para Ulama di zaman kolonial Belanda, maka Indonesia akhirnya berhasil merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. "Kegigihan mereka berujung kemerdekaan 17 Agustus 1945. Jelas betapa besarnya peran Ulama dalam menjaga keutuhan NKRI," terang Syamizard.
Oleh sebab itu, ia merasa heran dengan beberapa Ulama yang dinilainya justru tidak mencintai NKRI dan menyebut mereka sebagai pihak yang tidak jelas. Pasalnya, mereka tidak paham bahwa Ulama memiliki peran penting dalam mendirikan bangsa Indonesia.
"Saya enggak ngerti nih, Ulama-Ulama sekarang, di mana dulu bapaknya, nenek moyangnya enggak pernah berjuang makanya kaya begitu tuh kelakuannya," ujar Ryamizard. "Kalau Ulama dulu-dulu, nah ini berjuang nih. Baru belajar sedikit di Arab sudah enggak jelas. Tambah lama tambah enggak jelas aja itu."
Selain itu, Ryamizard juga menyampaikan bahwa Islam di Indonesia merupakan ajaran yang menjaga perdamaian dan persatuan. Bukannya melakukan tindakan teror.
"Padahal Islam Indonesia yang sebenarnya adalah Islam yang penuh damai dan menjunjung tinggi nilai persatuan, nasionalisme, dan toleransi," ungkap Ryamizard. "Memang Islam itu di mana saja, rahmatan lil alamin. Bukan teror-teror begitu."
(wk/Bert)