BMKG mengingatkan adanya bibit siklon menyebabkan pertumbuhan awan yang sangat tebal (kumulonimbus) sehingga berpotensi membahayakan aktivitas penerbangan.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 09 Mei 2019 - 10:13 WIB
WowKeren - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi bahwa bibit siklon tropis di Laut Banda terus menguat. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa kecepatan pusaran siklon ini bisa meningkat hingga 65 kilometer per jam.
"Jadi, apabila terjadi, seperti yang diperkirakan besok pukul 13.00 WIB, yang dikhawatirkan kecepatan pusaran siklon ini," kata Dwikorita di Jakarta Pusat, Rabu (8/5). "Pusaran angin ini akan meningkat hingga dapat mencapai 65 kilometer per jam atau kurang-lebih 35 knot per jam."
Jika hal ini terus berlanjut, maka akan berpotensi menimbulkan angin kencang dan hujan ekstrem. "Artinya, putarannya semakin kencang, tentunya akan berdampak, mengakibatkan angin kencang dan hujan lebat. Hal itu yang kita sebut sebagai hujan ekstrem," tutur Dwikorita.
Cuaca ekstrem sebelumnya pernah terjadi di Jakarta, Bengkulu, dan Bogor. Dwikorita khawatir jika fenomena yang sama akan terulang lagi, apalagi kali ini dibarengi dengan siklon. Untuk itu, ia mengimbau agar warga yang tinggal di bantaran sungai tetap waspada.
"Bengkulu, Jakarta, Bogor itu hujan ekstremnya sampai menimbulkan kerusakan, kerugian, gangguan. Itu tanpa ada siklon," ujar Dwikorita. "Nah, apalagi saat ini diperkuat dengan adanya siklon. Sehingga inilah pentingnya kami mengimbau masyarakat tetap tenang tapi lebih waspada."
Dwikorita juga mengimbau agar warga hati-hati terhadap keberadaan pohon-pohon terutama yang mudah tumbang. "Apabila diperkirakan akan terjadi hujan ekstrem, ini sebaiknya pohon-pohon yang mudah tumbang itu sudah disiapkan. Masih ada waktu sampai jam 13.00 WIB besok, kan misalnya," imbau Dwikorita.
Dampak siklon tak hanya terbatas di daratan. Bibit siklon juga akan mengakibatkan pembentukan awan kumulonimbus yang berpotensi membahayakan penerbangan. Awan ini cukup tebal sehingga bisa menyebabkan guncangan dalam pesawat.
"Bibit siklon atau siklon ini kan mengakibatkan juga pertumbuhan awan yang semakin intensif atau yang membahayakan bagi penerbangan itu, kumulonimbus, awan yang tebal," jelas Dwikorita. "Jadi kalau menerobos awan itu dikhawatirkan akan menimbulkan guncangan atau ketidaknyamanan penerbangan."
(wk/zodi)