Mahalnya harga tiket pesawat berbuntut pada menurunnya jumlah penumpang, bahkan di momen lebaran pun jumlah penumpang angkutan udara menurun dibanding tahun lalu.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 14 Juni 2019 - 16:38 WIB
WowKeren - Mahalnya tiket pesawat masih menjadi keluhan bagi banyak penumpang. Kenaikan harga tiket pesawat membuat moda transportasi yang satu ini mulai sepi penumpang. Bahkan di momen lebaran yang notabene menjadi saat-saat membludaknya penumpang, hal ini tidak terjadi pada moda transportasi yang satu ini.
Kementerian Perhubungan mencatat bahwa jumlah penumpang pesawat di lebaran tahun ini menurun sebesar 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dibanding tahun lalu, harga terendah tiket pesawat tahun ini masih lebih mahal dibanding lebaran tahun lalu. Adapun kenaikan tarifnya bervariasi mulai 16 hingga 79,5 persen.
Terkait hal ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai bahwa perlu dilakukan evaluasi terkait fenomena ini. Evaluasi dimaksudkan agar angkutan udara bisa tetap memberikan layanan pada masyarakat dengan lebih baik.
"Pada dasarnya angkutan udara memang harus kita evaluasi dengan sistematis," kata Budi di kantornya, Jakarta, Jumat (14/6). "Agar dia bisa memberi layanan lebih baik."
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono. Susiwijono mengatakan bahwa pihaknya akan segera menggelar rapat evaluasi harga pesawat pekan depan. Dalam evaluasi ini akan dibahas dampak penurunan batas atas.
Dari situ akan diketahui, jika penurunan batas atas memang tidak begitu memberikan dampak yang signifikan maka pemerintah akan mencari opsi lain. Tak menutup kemungkinan, pemerintah akan mendatangkan pemain baru, dalam hal ini maskapai asing.
"Sepakat kita evaluasi setelah lebaran, kan kalau lebaran harga tinggi karena peak season. Jadi pas kondisi normal," kata Susiwijono di Jakarta, Senin (10/6). "Minggu depan kita akan evaluasi. Setelah itu, jadi bagaimana pemikirannya mengundang maskapai asing kita akan bicarakan semua plus minusnya."
Wacana mendatangkan maskapai asing tentu mendapat protes dari maskapai nasional. Mendatangkan pemain asing berpotensi mengubah iklim pasar industri penerbangan saat ini. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Utama Sriwijaya Air, Joseph Adrian Saul. "Yang saya khawatirkan adalah bisa merusak pasar penerbangan domestik yang kemudian setelah itu ditinggalkan," tutur Joseph dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (7/6).
(wk/zodi)