Fenomena gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah saat ini, kecil kemungkinan akan sampai ke wilayah Indonesia. Berikut penjelasan BMKG.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 01 Juli 2019 - 15:43 WIB
WowKeren - Suhu udara panas atau gelombang panas (hotwave) sedang melanda sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah saat ini. Suhu panas ini merupakan perluasan dari gelombang panas yang pernah menerjang India beberapa minggu sebelumnya.
Suhu di negara-negara yang mengalami hotwave berkisar antara 34 hingga 51 derajat Celsius. Bahkan di Kuwait, suhu udara mencapai 51,4 derajat Celsius sedangkan di Prancis yang notabene negara beriklim sedang, tercatat suhu udara di sana meningkat hingga 34 derajat Celsius di kota tertentu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa fenomena gelombang panas kecil kemungkinan bisa mencapai Indonesia. Gelombang panas yang terjadi di Timur Tengah disebabkan karena selama periode Juni-Agustus, suhu di wilayah tersebut memang sudah tinggi. Hal ini merupakan efek dari posisi gerak semu tahunan matahari.
"Selain karena sistem sirkulasi udara yang menyebabkan gelombang panas di wilayah Timur Tengah berbeda dan tidak mengarah atau menuju ke wilayah Indonesia," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal dilansir dari Republika, Senin (1/7). "Suhu panas yang mencapai lebih dari 50°C juga sangat kecil peluangnya terjadi di wilayah Indonesia."
Sementara itu, di Indonesia sendiri suhu maksimal yang pernah tercatat belum pernah mencapai angka 40 derajat Celsius, melainkan 39,5. Fenomena ini terjadi pada Oktober 2015 lalu di Semarang.
Meski demikian, tidak menutup kemungkinan suhu udara di Indonesia akan mengalami peningkatan akibat adanya pemanasan global. Herizal menyebut bahwa perlu adanya langkah antisipasi yang bisa mengurangi efek tersebut, terutama mengurangi hal-hal yang menyebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca ke atmosfer bumi.
"Upaya ini harus dimulai dari kesadaran kita," lanjut Herizal. "Untuk mengurangi hal-hal yang dapat meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer dan membekali diri dengan pengetahuan tentang dampak negatif dari perubahan iklim."
Lebih jauh, fenomena gelombang panas di Timur Tengah merupakan variasi dari iklim yang ada di sana. Sehingga menurut BMKG, gelombang panas di Timur Tengah tidak bisa dikaitkan langsung dengan perubahan iklim.
(wk/zodi)