Segmentasi wisata halal yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten BanyuwJangi beberapa waktu lalu baru-baru ini ramai disoal setelah muncul tulisan terkait tudingan arabisasi.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 01 Juli 2019 - 19:08 WIB
WowKeren - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memajukan segmentasi wisata halal dengan mengembangkan pantai halal tourism beberapa waktu lalu. Namun, siapa sangka jika ide tersebut menjadi perbincangan hangat di media sosial sejak kemunculan tulisan berisi tudingan arabisasi.
Pelaku wisata sekaligus penggagas Taman Gandrung Terakota Banyuwangi Sigit Pramono mengaku heran dengan tudingan tersebut. "Saya tidak bisa memahami apa yang menjadi niat dan tujuan orang yang menyebut telah terjadi arabisasi pariwisata di Banyuwangi," kata Sigit dilansir dari Okezone, Senin (1/7).
Menurutnya, Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas telah berupaya maksimal untuk memajukan pariwisata di sana. Selama ini, kebudayaan dan kesenian tradisional Banyuwangi kerap diangkat dalam berbagai event maupun pertunjukan.
"Saya benar-benar kecewa dengan statement arabisasi itu. Maksudnya apa?" tegas Sigit. "Padahal, selama ini kebudayaan dan kesenian tradisional Banyuwangi selalu diangkat ke tempat yang sangat terhormat. Dari 99 event yang diprakarsai Pemkab Banyuwangi, sebagian besar adalah kegiatan seni budaya tradisional Banyuwangi."
Lebih lanjut, wisata halal merupakan salah satu strategi pemasaran untuk memenuhi kebutuhan khusus segmen tertentu. "Kalau soal wisata halal, menurut saya itu sebuah strategi pemasaran. Sebagai upaya untuk menjangkau segmen khusus yang memang membutuhkan layanan dan produk khusus," tutur Sigit.
Ia kemudian mencontohkan Pantai Syariah di Pulau Santen. Tujuan dari Pulau Santen ini, dikatakan Sigit, memang sengaja ada untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung tertentu, khususnya wanita dan anak-anak. Oleh sebab itu, keberadaannya tidak perlu disoal.
"Kalau ada yang menyoal tentang pantai syariah Pulau Santen, itu karena memang ada permintaan," tegas Sigit. "Dan semestinya tidak perlu dipersoalkan karena pantai lainnya untuk masyarakat umum masih jauh lebih banyak."
Sementara itu, Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH Nur Khozin menegaskan bahwa pembangunan pariwisata halal di Banyuwangi sama sekali berbeda dengan arabisasi. "Arabisasi itu berarti menerapkan budaya Arab. Di Banyuwangi tidak ada seperti itu," kata Nur dilansir dari Detik, Senin (1/7).
(wk/zodi)