PT Krakatau Steel disebut-sebut mengalami kerugian akibat proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal atau blast furnace. Potensi kerugiannya ditaksir mencapai Rp 1,3 triliun.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 24 Juli 2019 - 15:16 WIB
WowKeren - PT Krakatau Steel Tbk disebut mengalami kerugian akibat tingginya biaya produksi dibandingkan harga pasar. Hal tersebut dikemukakan oleh Komisaris Independen PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Roy Edison Maningkas.
Ia mengatakan bahwa kerugian perusahaan disebabkan oleh proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal atau blast furnace. Jumlah kerugiannya ditaksir mencapai Rp 1,3 triliun.
Terkait hal ini, Direktur Utama KRAS Silmy Karim menyampaikan bahwa proyek blast furnace sudah dicanangkan sejak 10 tahun lalu. Namun, karena suatu hal proyek ini harus ditunda.
"Ini kan sempat delay, terus kemudian saya masuk diminta untuk menyelesaikan proyek ini dan kemudian menjalankan," kata Silmy di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (24/7). "Kemudian saya lihat, biasanya kalau saya masuk ditugaskan ke BUMN baru itu saya lihat temuan BPK-nya apa."
Ia menuturkan bahwa saat dirinya masuk ada 30 temuan BPK yang mana temuan ini segera ditindaklanjuti hingga hanya tersisa 9 temuan. Dari 9 temuan yang tersisa, 4 di antaranya adalah blast furnace. "Nah di 9 temuan ini, 4 di antaranya mengenai blast furnace. Kita kan menyikapi ini mesti bijak. Proyek ini harus selesai," lanjut Silmy.
Menyikapi hal ini, Silmy pun berupaya agar proyek tersebut segera diselesaikan. Sebab jika tidak, dikhawatirkan akan membuat masalah semakin pelik.
"Kemudian kita bicara potensi rugi. Potensi rugi gini maksudnya, misalnya dulu waktu feasibility study, harga dari pada produk yang dihasilkan cost nya misalnya US$ 400," jelas Silmy. "Tapi kemudian karena delay dan lain sebagainya menjadi US$ 500 misalnya, ya biayanya ada penambahan."
Meski demikian, ia mengaku tak ambil pusing sebab menurutnya yang paling penting saat ini adalah menjalankan proyek yang sempat mandek tersebut. "Ya masalah nombok kan masalah proyek dulu, itu angkanya perlu dicek ulang. Nanti kalau sudah selesai baru ketahuan berapa besarnya. Pokoknya semua itu harus dijalankan secara lengkap," pungkasnya.
(wk/zodi)