Apabila kerjasama antara PDI Perjuangan dan Gerindra berjalan lancar, bukan tidak mungkin arah persaingan politik pada Pemilu 2024 akan berbeda dari biasanya.
- Elvariza Opita
- Kamis, 25 Juli 2019 - 09:09 WIB
WowKeren - Pertemuan antara mantan Pasangan Calon (Paslon) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto memang menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Banyak mata tertuju pada pertemuan tersebut, sembari bertanya-tanya apa motivasi di baliknya.
Berbagai pihak pun mengungkapkan analisisnya, termasuk oleh peneliti bidang politik The Indonesia Institute Rifqi Rachman. Rifqi memperkirakan pertemuan itu sebagai langkah awal koalisi PDI Perjuangan dan Partai Gerindra untuk Pilpres 2024.
"Pertemuan tersebut sebagai bagian dari gerilya silaturahmi politik menuju Pemilu 2024," ujar Rifqi melalui keterangan tertulisnya, Rabu (24/7). "Yang sudah mulai ramai dengan wacana mengenai para kandidat calon presiden yang potensial."
Menurutnya kemungkinan tercapainya koalisi antara dua partai cukup besar. Rifqi pun optimis para loyalis partai akan satu suara kendati saat ini kedua partai tersebut dalam kubu yang berseberangan.
"Jika tokoh sentral di dalam parpol sudah membuka peluang, para loyalis tentu akan satu suara," katanya, dilansir oleh Suara, Kamis (25/7). "Apalagi kenyataannya memang oligarki dalam tubuh partai politik masih sangat kuat di Indonesia."
Namun, menurutnya, tak akan ada lagi duet Megawati-Prabowo di Pilpres 2024. Keduanya justru akan menjadi pembuat strategi dan mengusung kandidat potensial yang masih muda namun berpengalaman. Hal itu, tutur Rifqi, akan menghadirkan suasana persaingan yang baru dan menarik.
"Kalau Pak Prabowo agaknya masih punya potensi untuk maju lagi," jelasnya. "Tapi kalau relasi PDIP-Gerindra lancar sampai 2024, bisa jadi Prabowo juga bertransformasi menjadi king maker (penyusun strategi)."
Di sisi lain, Rifqi juga turut mengomentari pertemuan antara Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurutnya pertemuan itu juga dalam persiapan menyongsong Pemilu 2024.
"NasDem memulai langkah sangat dini untuk menyongsong 2024 dengan menjalin relasi bersama Anies," ujarnya. "Pernyataan Ketum Nasdem yang mengatakan Anies baru mengeluarkan setengah potensinya memperjelas arah perbincangan di pertemuan tersebut."
Namun menurutnya masih ada banyak hal yang harus dipertimbangkan NasDem apabila benar ingin mengusung Anies di Pilpres 2024. Salah satunya soal pendukung Anies yang kebanyakan dari kalangan konservatif. Hal ini tentunya akan mengubah corak partai NasDem menjadi lebih keagamaan.
(wk/elva)