Densus 88 Antiteror memperkirakan aktor intelektual di balik aksi pengeboman yang menewaskan 22 orang pada Januari 2019 lalu itu masih berada di Filipina Selatan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 25 Juli 2019 - 10:40 WIB
WowKeren - Baru-baru ini Polri mengungkapkan keterlibatan pasangan suami istri (pasutri) berkewarganegaraan Indonesia yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Filipina. Terungkap pula bahwa pasutri tersebut bergabung dalam jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Namun pasutri ini bukanlah otak di balik aksi teror tersebut. Polisi menyebut anggota JAD asal Makassar bernama Andi Baso sebagai otak pengeboman tersebut.
Saat ini Andi diyakini masih berada di Filipina, tepatnya di bagian selatan negara tersebut. Demi melacak keberadaannya, Densus 88 pun siap menggandeng Kepolisian Filipina.
"Densus 88 dan polisi di sana telah berkoordinasi," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7). "Untuk melakukan pengejaran terhadap Andi Baso yang diyakini berada di Filipina Selatan."
Sebelumnya Andi telah ditetapkan sebagai buronan setelah melakukan aksi teror pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda pada 2016 lalu. Andi lalu melarikan diri ke Filipina. Di sana lah Andi mengatur rencana terornya, termasuk dengan memberangkatkan pasutri yang menjadi pelaku bom bunuh diri Januari 2019 lalu.
"Mereka masuk (Filipina Selatan) bulan Desember 2018, dibawa oleh Andi Baso," jelas Dedi, dikutip dari Suara, Kamis (25/7). "Mendiang Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh (pelaku pengeboman) pada Desember 2018 berangkat melalui jalur gelap ke sana."
Sementara itu Densus 88 Antiteror disebut akan mengusut aliran dana para teroris. Bekerja sama dengan Kedutaan Besar (Kedubes) dari enam negara, Densus 88 berharap bisa menyelidiki dana terorisme yang masuk dari luar negeri ke Indonesia.
"Masing-masing Kedubes ada liason officer-nya di bidang keamanan dan pertahanan," kata Dedi. "Diundang oleh Densus 88 untuk mengkomunikasikan sekaligus tukar menukar informasi terkait jaringan terorisme di Indonesia dan di beberapa negara."
Pasalnya Densus 88 menemukan adanya aliran dana dari Trinidad Tobago, Maldives, Venezuela, Jerman, Filipina, dan Malaysia. Adapun kelompok radikal yang dibiayai dengan mekanisme ini adalah JAD dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
(wk/elva)