Petemuan antara Prabowo dan Megawati akhirnya terlaksana pada Rabu (24/7) di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Pertemuan itu terlihat kental akan suasana kekeluargaan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 25 Juli 2019 - 13:21 WIB
WowKeren - Pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akhirnya terlaksana pada Rabu (24/7). Pertemuan yang kental akan nuansa kekeluargaan itu menjadi sorotan banyak pihak, terutama soal siapa sosok yang berhasil "mendamaikan" kedua kubu yang selama ini nyaris tak pernah bersua.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto buka suara. Hasto mengaku pertemuan tersebut sudah sejak lama direncanakan, yakni sejak Asian Games pada Agustus 2018 lalu.
"Sejak Asian Games. Pas Asian Games itu kan Pak Prabowo bilang, 'Bu, saya kangen sama nasi goreng Ibu. Udah lama (nggak makan)'," ujar Hasto sambil menirukan percakapan antara mantan Pasangan Calon (Paslon) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 itu. "(Lalu Megawati merespons) 'Ya sudah, nanti datang'. Karena kesibukan, baru hari ini (bisa terlaksana). Jadi kalau ditanya direncanakan sejak kapan? Sejak Asian Games."
Hasto menyebut pertemuan kedua tokoh bangsa itu berjalan dengan lancar dan sarat kehangatan. Pasalnya hubungan baik antara keduanya pun selama ini tetap terjaga kendati nyaris tak pernah terungkap di hadapan publik. Oleh karena itulah Prabowo dan Megawati tetap bisa berdialog bersama.
Lebih lanjut, Hasto pun menyinggung sosok Presiden Joko Widodo di balik pertemuan tersebut. Ia menyebut agenda pertemuan ini telah dikomunikasikan dengan Jokowi dan disambut positif oleh sang presiden.
"Semuanya kan orkestra nya Pak Jokowi. Sebagai Presiden, membangun suasana positif, yang merangkul," ujarnya, dilansir dari laman Kompas, Kamis (25/7). "Kan Pak Jokowi juga barusan nulis itu, bahwa kekuasaan tidak dipakai untuk (menjatuhkan)."
Hasto pun menyatakan bahwa ketiga tokoh tersebut memiliki cara pandang yang sama dalam membangun bangsa dan negara. Oleh karena itu, ketiganya memiliki pemahaman yang sama dalam menyikapi sebuah pertemuan silaturahmi.
"Kita namanya politisi kan suasana kebatinannya kan bisa saling connect. Jadi bukan siapa yang menginstruksikan siapa, siapa yang memoderatori siapa," pungkasnya. "Terhadap bangsa dan negara itu semua connect."
(wk/elva)