Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni'an Sholeh, menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya Aurellia Qurrota Ain, anggota Paskibraka Kota Tangerang Selatan.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 02 Agustus 2019 - 18:43 WIB
WowKeren - Seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang Selatan yang bernama Aurellia Qurrota Ain meninggal dunia pada Kamis (1/8). Siswi SMA Islam Al Azhar BSD Serpong tersebut menghembuskan napas terakhir di kediamannya.
Diketahui, Aurellia telah berlatih sejak 9 Juli 2019 dan didaulat membawa baki bendera pusaka merah putih pada upacara 17 Agustus di Lapangan Cilenggang, Tangerang Selatan. Menurut keterangan orangtuanya, Aurellia sempat terjatuh di rumah saat hendak berangkat ke lokasi pelatihan.
"Keterangan orangtuanya, almarhumah pada subuh hari kejadian dari rumah sudah siap menuju lokasi pelatihan Paskibraka di Lapangan Cilenggang. Saat di rumah, Aurel terjatuh," ungkap Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Tangsel, Warta Wijaya, dilansir Merdeka pada Jumat (2/8). "Selanjutnya kami dapat informasi dari teman sekolahnya bahwa Aurel sudah meninggal."
Kabar meninggalnya Aurellia juga sudah sampai Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Ni'an Sholeh, menyampaikan rasa belasungkawanya.
"Kami turut berduka cita mendalam atas wafatnya adinda (Aurellia), semoga arwahnya diterima oleh Allah SWT, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiuun," ujar Asrorun pada Jumat (2/8). "Semoga (almarhumah) husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan."
Penyebab kematian Aurellia sendiri hingga kini masih belum jelas. Namun, Asrorun menekankan bahwa pelatihan yang diberikan kepada para calon Paskibraka merupakan pendidikan yang baik dan tak berdampak buruk bagi fisik peserta.
Terlepas dari apa pun penyebab kematian Aurellia, Asrorun menjelaskan bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) pelatihan Paskibraka memastikan para pelaksana memahami apa yang boleh dan tak boleh dilakukan pada capaska. Ia mengingatkan bahwa tidak boleh ada kekerasan dalam pelatihan Paskibraka.
"Kami mengingatkan, bahwa latihan Paskibraka adalah pendidikan dan pelatihan yang ramah anak," tutur Asrorun. "Tidak boleh ada bullying, apalagi kekerasan. SOP ini yang terus dipegang oleh seluruh pelaksana."
(wk/Bert)