Saat ini, Pemerintah tengah berupaya untuk melakukan pendekatan kepada pelanggan mereka. Sebab, ke depan siapa yang menguasai customer dialah yang bisa menguasai bisnis.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 15 Agustus 2019 - 17:16 WIB
WowKeren - Pemerintah kian mantap untuk melakukan modernisasi transportasi dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju ke kendaraan berbahan bakar listrik. Terkait hal ini, Pertamina ikut menanggapi.
Pertamina mengaku merasa khawatir dengan adanya modernisasi transportasi tersebut. Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid khawatir jika listrik akan lebih mendominasi pemakaian energi dibanding bahan bakar minyak atau BBM.
"Yang gawat itu adalah mobil listrik kendaraan listrik," kata Mas'ud di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (15/8). "Karena itu lah yang akan main customer kami."
Mas'ud kemudian memberikan contoh tentang kondisi yang ada di Tiongkok. Menurutnya, perusahaan minyak di sana tidak lagi tumbuh subur seperti sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkembangnya mobil listrik sehingga para pemain di pasar pun juga mulai melirik energi listrik.
"Sementara tren itu di China luar biasa dahsyatnya," jelas Mas'ud. "Bahkan penjualan minyak di sana di Petrochina itu tidak tumbuh sementara marketnya tumbuh, market baru itu dimakan oleh energi voltage."
Saat ini, di negeri tirai bambu tersebut penggunaan mobil listriknya sudah mencapai 2,7 juta. Jumlah ini terus mengalami peningkatan. "Saat ini di China ada sekitar 2,7 juta kendaraan listrik, dan itu trennya terus naik dari 4,7 juta dari kendaraan listrik di dunia, yang di China sekitar 2,7 juta," lanjut Mas'ud.
Untuk itu, saat ini Pertamina sedang berupaya untuk mendekatkan diri ke para pelanggan. "Saat ini Pertamina sedang berpikir keras untuk managing customer atau mendekatkan diri ke customer. Karena ke depan siapa yang menguasai customer dialah yang bisa menguasai bisnis," kata Mas'ud.
Kehadiran mobil listrik dianggap sebagai solusi untuk mengurangi masalah polusi yang kian mencemari lingkungan. Tak hanya itu, jika penggunaan mobil listrik bisa benar-benar diterapkan di Indonesia maka akan berbuntut pada pengurangan konsumsi bahan bakar minyak. Seperti diketahui, konsumsi BBM di Indonesia saat tinggi hingga harus mengimpor dari negara lain guna memenuhi kebutuhan tersebut.
(wk/zodi)