Datangi Asrama Mahasiswa, Gubernur Papua Justru Ditolak
Nasional
Demo Rasisme Papua

Kehadiran Lukas Enembe ke Surabaya sekaligus untuk memenuhi undangan Gubernur Jawa Timur. Pertemuan keduanya digelar untuk membahas upaya meredam tensi pasca insiden rasisme yang terjadi.

WowKeren - Kisruh soal tindakan rasisme yang diterima mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang masih menjadi bahan pembicaraan hangat sepekan belakangan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meredam tensi yang terjadi, salah satunya dengan aktifnya pejabat-pejabat terkait untuk menjalin komunikasi.

Yang terbaru, Gubernur Papua, Lukas Enembe dikabarkan menemui Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi, Surabaya, pada Selasa (27/8). Selepas pertemuan itulah, Lukas langsung bertolak ke asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya. Namun, sayangnya, kedatangan Lukas justru berbuah penolakan.


Dilansir dari laman CNN Indonesia, Lukas terpantau tiba di depan asrama pada pukul 17.45 WIB. Namun mahasiswa di dalam asrama justru menolak kehadiran Lukas sambil menunjukkan spanduk bertuliskan "Siapapun yang datang kami tolak".

"Baca ini! Baca ini! Baca!" seru puluhan mahasiswa dari dalam asrama. "Bisa baca atau tidak?!"

Untuk diketahui, spanduk tersebut sudah terpasang di depan asrama sejak beberapa hari lalu. Spanduk yang sama juga "menyambut" kehadiran Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini beberapa hari silam.

Tak hanya itu, beberapa penghuni asrama pun nekat menggebrak gerbang demi mengusir Lukas. Mereka terlihat geram dengan kehadiran orang nomer satu di Provinsi Papua tersebut.

"Lepas Garuda dulu kalau ke sini! Lepas Garuda!" seru mereka. Lukas pun terlihat tak berlama-lama di lokasi. Ia dan rombongan lantas meninggalkan lokasi tanpa sepatah kata pun.

Sebelum ke asrama, Lukas diketahui menemui Khofifah di Gedung Grahadi. Dalam pertemuan itu, keduanya sepakat untuk meredam perselisihan yang terjadi.

Awalnya, Khofifah-lah yang menyinggung insiden rasisme yang terjadi. Selain meminta maaf, Khofifah juga meyakinkan Lukas bahwa tindakan yang terjadi adalah urusan personal dan tidak mewakili rakyat Jawa Timur.

"Dinamika yang terjadi kami sampaikan di awal maaf kami," kata Khofifah, Selasa (27/8). "Karena yang terjadi insiden personal dan tidak mewakili suara kami, masyarakat Jatim."

Menanggapi hal tersebut, Lukas pun menyatakan siap ikut membantu meredam ketegangan yang terjadi. Ia mengaku sudah mengirimkan tim khusus, namun hingga kini tim tersebut belum diterima oleh mahasiswa Papua di Surabaya.

Selain itu, Lukas juga mengatakan ingin menjaga hubungan baik dengan Jatim. Oleh karenanya, ia berharap agar kejadian semacam ini tak lagi terulang.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts