Survei LIPI Sebut 80,7 Persen Masyarakat Masih Pertimbangkan Agama Dalam Pemilu 2019
Nasional

LIPI telah merilis hasil survei nasionalnya terkait Pemilu 2019. Dari hasil survei tersebut diketahui jika 80,7 persen masyarakat masih mempertimbangkan agama dalam memilih caleg yang maju di Pemilu 2019.

WowKeren - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis hasil survei nasional yang dilakukan terkait pemilu serentak 2019 dan penguatan demokrasi di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut diketahui jika 80,7 persen responden masih mempertimbangkan agama para calon legislatif (caleg) yang akan mereka pilih dalam Pemilu 2019.

Sedangkan 18,5 persen sisanya tidak mempertimbangkan hal tersebut. Tak hanya itu, sebanyak 73,9 persen responden juga masih mempertimbangkan etnis dari caleg yang akan mereka pilih dan hanya 26,1 persen yang tidak mempertimbangkannya.

Peneliti Senior LIPI Sjamsuddin Haris mengatakan meskipun agama dipertimbangkan sebagai faktor dalam menentukan pilihan, tetapi sebetulnya, agama dan suku etnis tidak menjadi preferensi responden dalam memilih caleg. "Sebab data survei menunjukkan bahwa hanya sebagian saja pemilih atau publik yang memilih berdasarkan preferensi agama dan suku bangsa. Hal ini lebih dikuatkan lagi oleh hasil pemilu itu sendiri," kata Sjamsuddin.

Hal itu disampaikan oleh Sjamsuddin dalam acara rilis survei nasional Evaluasi Pemilu 2019 dan Konsolidasi Demokrasi Indonesia di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (28/8). Ia juga menyebutkan bahwa hasil Pemilu 2019 telah menunjukkan bahwa partai-partai Islam dan berbasis Islam gagal dalam mengimbangi partai-partai nasionalis.


Kendati demikian, hal tersebut rupanya menjadi fenomena yang kerap terjadi dari pemilu ke pemilu. Pada Pemilu 2019, perolehan suara yang diraih partai-partai Islam merosot dibandingkan Pemilu 2014.

Jika pada Pemilu 2014 suara yang diperoleh oleh partai-partai Islam masih 31,41 persen, tetapi pada Pemilu 2019 perolehan suaranya jadi 30,05 persen. Survei itu juga memperlihatkan bahwa mayoritas publik tidak setuju jika agama digunakan dalam mendapatkan dukungan elektoral dengan presentase sebesar 54,2 persen.

Meski begitu, masih ada 45,9 persen responden yang memandang aksi bela Islam sebagai respons umat Islam untuk membela kepentingannya. Seperti gerakan 212 yang dilakukan pada tahun 2016.

"Jadi dari hasil itu saya melihat bahwa ada gap antara pandangan publik dan tokoh antara komitmen partai-partai Islam dalam perjuangkan nilai Islam dibandingkan partai nasional," jelas Sjamsuddin. "Ada angka sebesar 73,9 persen dari survei tokoh yang menyatakan bahwa partai Islam tidak sepenuhnya memperjuangkan nilai Islam, sedangkan publik yang menyatakannya ada sebanyak 31,1 persen."

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait