Menkeu Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya ada di kisaran 5,08 persen. Proyeksi ini jauh lebih rendah dibanding outlook yang semula sebesar 5,2 persen, dan target APBN 2019 yang sebesar 5,3 persen.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 31 Agustus 2019 - 11:49 WIB
WowKeren - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui bahwa perekonomian Indonesia kemungkinan hanya tumbuh di kisaran 5,08 persen sampai akhir tahun 2019 ini. Proyeksi ini jauh lebih rendah dibanding outlook yang semula sebesar 5,2 persen, dan target APBN 2019 yang sebesar 5,3 persen.
"Total semester II, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,11 persen, yang kalau dibulatkan satu digit sebesar 5,1 persen atau 5,08 persen itu adalah forecasting (sampai akhir tahun)," tutur Sri Mulyani dalam rapat bersama Komisi XI DPR pada Kamis (29/8). "Outlook 5,2 persen masih kami taruh di sana, tapi internal kami lihat 5,08 persen."
Menanggapi hal tersebut, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun buka suara. Menurut Darmin, revisi target tersebut disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global.
Darmin menjelaskan bahwa kondisi ini berdampak pada turunnya impor. Sementara turunnya impor juga menurunkan ketersediaan barang modal yang bisa mendongkrak produksi dalam negeri.
"Ya globalnya begitu. Selama berapa kuartal itu impor pun turun, baru kemarin dia (naik) lagi," jelas Menko Darmin di kantornya di Jakarta Pusat pada Jumat (30/8). "Ya sebenarnya proses itu sudah terjadi selama setahun terakhir dengan melambatnya impor secara berturut-turut. Baru bulan Agustus dia positif lagi."
Tak hanya itu, pertumbuhan konsumsi juga diprediksi tak bergerak banyak. Sektor investasi kini diharap bisa menjadi motor penggerak ekonomi.
"Ya konsumsi itu kan growth-nya lebih kurang segitu-segitu saja. Tidak bisa mendongkrak naik," pungkas Menko Darmin. "Intinya bukan konsumsi lagi, investasi berapa naiknya. Karena ekspor pun belum bisa diharapkan."
Di sisi lain, Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, sempat meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 akan "nyungsep" dan hanya mencapai 4,5 persen saja. "Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5 persen," tutur Rizal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin (12/8).
(wk/Bert)