Pertamina siap memproduksi baterai untuk menyuplai kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Baterai tersebut memiliki bentuk dan fungsi yang sama dengan baterai kendaraan listrik.
- Wahyu
- Kamis, 05 September 2019 - 15:07 WIB
WowKeren - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina dikenal sebagai pengelola perminyakan dan gas bumi yang ada di dalam negeri. Kali ini Pertamina mengaku tengah menjajaki bisnis baru yaitu menjadi produsen baterai.
Salah satu tujuan pengembangan ini bertujuan untuk mendukung elektrifikasi otomotif. Vice President R&T Planning & Commercial Research & Tehcnology Center Pertamina, Andianto Hidayat menyebutkan jika strategi baru itu untuk menanggapi pergeseran pasar.
Serta kebutuhan produsen baterai di dalam negeri yang menunjang kegiatan bisnis energi terbarukan seperti kebutuhan pembangkit listrik tenaga angin (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau PTLB). Menurut Andianto, PLTB membutuhkan baterai agar bisa menyuplai listrik dengan stabil.
"Turbin angin itu kan intermittent (berselang) ya, jadi waktu anginnya turun dia pelan, kalau kenceng, besar, tapi kan suplai ke PLN harus stabil," jelas Andianto saat ditemui di Indonesia Electric Motor Show di Jakarta, Rabu (4/9). "Untuk menstabilkan itu kan perlu baterai."
Sel baterai pendukung PLTB sama seperti digunakan pada baterai kendaraan listrik. Namun yang membedakan hanyalah kemasannya saja.
Pertamina akan menggarap bisnis pabrik baterai lithium di Indonesia, realisasinya dikatakan pada 2021 dan berlokasi di Jawa Barat. Sayangnya, Andianto enggan menjelaskan soal investasi perusahaan baru yang khusus menangani itu.
"Saya belum bisa ngomong sekarang, tapi ya kita satu line dulu. Kami terbuka, sinergi BUMN juga ada, karena ada beberapa BUMN yang juga mau kerja sama," katanya.
Suplai produksi baterai milik Pertamina ini akan didukung pabrik bahan baku baterai di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah, yang pernah diklaim bakal menjadi terbesar di dunia. "Kelanjutan dari proses di Morowali, karena di sana kan punya Inalum (Indonesia Asahan Alumunium) akan bikin komponen baterai," jelas Andianto. "Kami ga masuk di sana (Morowali), Kami cuma ambil hasil dari sana untuk menjadi anoda dan katoda."
Produk baterai yang diproduksi Pertamina dikatakan bakal menyesuaikan permintaan, di antaranya jenis NMC (Lithium Nickel Manganese Cobalt Oxide) dan LFP (Lithium Ferrophosphate). Peralihan model bisnis ini disinyalir kuat menanggapi redupnya bisnis perminyakan di mana Pertamina merasa kesulitan menemukan sumber minyak bumi baru yang pas untuk diekplorasi.
(wk/wahy)