Uni Eropa Ingatkan Indonesia Berpotensi Langgar WTO Jika Terapkan Bea Masuk Produk Susu
Nasional

Indonesia berencana mengenakan bea masuk 20-25 persen terhadap produk olahan susu dari Uni Eropa sebagai bentuk 'serangan balasan' usai Eropa mengenakan bea masuk untuk biodesel RI.

WowKeren - Uni Eropa merespons rencana pemerintah Indonesia yang hendak mengenakan bea masuk untuk produk olahan susu asal Eropa sebesar 20-25 persen. Head of the Economic and Trade Section Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Raffaele Quarto, menilai rencana tersebut melanggar ketentuan World Trade Organization (WTO).

"Inisiasi ini tentunya melanggar peraturan WTO," kata Raffaele dalam media briefing kerja sama Uni Eropa dan Indonesia terkait kelapa sawit, di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (5/9). "Tak hanya itu, hal ini juga tak baik untuk perekonomian Indonesia."

Rencana Indonesia tersebut merupakan upaya "balas dendam" setelah Uni Eropa menerapkan bea masuk terhadap biodesel Indonesia sebesar 8-18 persen. Serangan balasan tersebut dianggap bertentangan dengan aturan WTO yang mengharuskan negara-negara anggotanya menjalankan aktivitas perdagangan yang adil, termasuk tak boleh mengenakan tarif sebagai pembalasan.


"WTO tidak memperbolehkan suatu negara mengenakan tarif sebagai pembalasan, itu dilarang," tegas Raffaele. "Dalam hal ini adalah tarif bea masuk dairy products."

Terkait dampaknya dengan kondisi perekonomian Indonesia, hal ini hanya akan merugikan. Sebab, tak sedikit industri makanan Indonesia yang bergantung pada produk olahan susu dari Eropa. Jika wacana ini benar-benar akan dilakukan maka industri Indonesia juga akan kena batunya.

"Banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan produk olahan susu dari Eropa sebagai bahan baku. Mereka tentunya akan terdampak," jelas Raffaele. "Contohnya, Eropa merupakan pemasok susu bubuk di Indonesia yang digunakan oleh berbagai industri. Kalau dikenakan tarif sebesar itu, hanya akan memberikan kerugian."

Lebih jauh, Raffaele mengingatkan Indonesia yang juga pernah berselisih paham dengan negara-negara lain anggota WTO. "Indonesia juga memiliki berbagai kasus dengan USA (Amerika Serikat), juga dengan Eropa di WTO. Beberapa kasus Indonesia menang, beberapa kasus Indonesia pun kalah. Jadi, untuk hal ini, UE akan selalu mengikuti peraturan dan administrasi yang telah ditetapkan oleh WTO," tegas Raffaele.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts