Mantan Warga Timor Timur pro NKRI telah memaafkan dan mendoakan kepergian Presiden Republik Indonesia Ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie yang telah wafat pada Rabu (11/9).
- Wahyu
- Kamis, 12 September 2019 - 12:28 WIB
WowKeren - Mantan warga Timor Timur pro NKRI telah memaafkan dan mendoakan kepergian Presiden Republik Indonesia Ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie. BJ Habibie telah wafat pada hari Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Mantan Presiden RI tersebut berpulang pada usia yang ke 83 tahun. BJ Habibie telah meninggalkan dua orang anak lelaki yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal serta telah menyusul sang istri Hasri Ainun Besari yang telah berpulang terlebih dahulu pada 2010 silam di Jerman.
Mantan Juru Bicara Pro Otonomi Timor Timur, Florencio Mario Vieira menyebutkan jika warga Timor Timur pro NKRI yang kini memilih menetap di Indonesia tentunya telah memaafkan dan mendoakan BJ Habibie. Hal ini tak lepas dari keputusan Habibie saat menjabat sebagai Presiden RI selama setahun pada periode 1998-1999 yang melakukan referendum yang berakhir dengan lepasnya wilayah Timor Timur dari Indonesia yang kini menjadi negara dengan nama Timor Leste.
"Keputusan Habibie melaksanakan jajak pendapat di Timur Timur bagi pihak pro kemerdekaan pasti gembira, sedangkan yang pro Indonesia pasti merasa kecewa," ungkap Florencio seperti dikutip Antara pada Kamis (12/9). "Tetapi sebagai warga Timur Timur pro NKRI yang menetap di Indonesia pasti memaafkan dan mendoakan almarhum BJ Habibie."
Keputusan BJ Habibie sebagai presiden untuk melepas Timor Timur tentunya memiliki sejarah yang besar bagi negara Timor Leste. Ia menilai sangat wajar jika selalu ada pro dan kontra bahkan hingga kini karena terbelahnya pendapat masyarakat terkait situasi yang pernah mengguncang negara Indonesia di kala itu.
Florencio menjelaskan bagi pihak menyetujui referendum dan pro kemerdekaan pastinya begitu menyambut keputusan tersebut. Namun beda halnya dengan warga yang tidak menyetujui dan lebih memilih tetap bergabung dengan Indonesia pasti kecewa dan memiliki dampak yang begitu besar.
Sebagai warga yang masih pro NKRI, keputusan tersebut sempat membuat ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan bumi Loro Sae dan tinggal di kamp-kamp pengungsi. Selama 20 tahun hidup di luar tanah kelahiran, banyak warga eks Timor Timur yang bergabung dengan NKRI dan menjalani hidup dengan penuh ketidakpastian.
(wk/wahy)