BRG Sebut Indonesia 'Beruntung' Meski Sering Terjadi Karhutla
Twitter
Nasional

Badan Restorasi Gambut (BRG) menyebut Indonesia masih 'beruntung' meskipun sering terkena karhutla. Hal tersebut dikarenakan Indonesia mengetahui cara yang tepat untuk penanganan pasca karhutla.

WowKeren - Beberapa waktu terakhir sejumlah wilayah di Indonesia tertutup oleh kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bahkan hingga Jumat (13/9) sejumlah wilayah di Riau masih tertutup oleh kabut asap berwarna kuning.

Terkait kondisi tersebut, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan bahwa Indonesia masih "beruntung" meski sering terjadi karhutla di berbagai wilayahnya.

Bila dibandingkan dengan dengan Amerika, kebakaran hutan dan lahan yang membabat Indonesia pada 2018 hanya 500 ribu hektare dan 110 ribu hektare di 2017. Sedangkan di saat yang sama hutan dan lahan yang terbakar di Amerika Serikat 3,5 juta hektare di 2018 dan 4 juta hektare pada 2017.

Nazir menyebut Indonesia beruntung karena tahu cara menangani gambut yang benar meski sudah terkena karhutla. "Jadi saya mau bilang kita masih beruntung karena kita masih di jalur yang benar. Hasilnya, memang kita harus sabar, gambut kita masih butuh pemulihan, masih butuh menunggu. Baru 3,5 tahun, harus puluhan tahun," kata Nazir di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (13/9).


Sedangkan di beberapa negara lain, belum banyak yang mengetahui program yang tepat untuk menangani karhutla. Ia kemudian memaparkan tiga program besar yang diusung BRG sejak 2015 hingga habis masa kerja pada 2020, yakni pembasahan atau rewetation (R1), penanaman kembali atau revegetation (R2), dan revitalization (R3).

Sayangnya, pencapaian BRG tidak seindah yang diklaim oleh Nazir. Pasalnya, sejak didirikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu BRG memiliki tugas untuk merestorasi 2,6 juta hektare lahan gambut akibat karhutla. Lahan-lahan tersebut tersebar di tujuh provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.

Hingga akhir 2018, BRG baru mampu membasahi 76 persen dari 892.248 hektare lahan nonkonsesi. Sedangkan untuk wilayah konsensi, BRG baru memulainya di tahun 2018 dengan pencapaian 39,30 persen dari 555.659 hektare perkebunan dan 9,44 persen dari 1.217.053 hektare area perkebunan.

Restorasi gambut memerlukan waktu puluhan tahun. Nazir pun mencontohkan jika negara maju seperti Jepang saja yang berhasil memulihkan 300 hektare lahan gambut dalam waktu 10 tahun.

"Masih panjang perjalanan, keputusan (soal perpanjanan BRG) ada di Bapak Presiden. Harapannya memang masih ada lembaga kuat yang berwenang untuk restorasi gambut," ujarnya.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait