Para mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi tersebut mendesak agar aparat kepolisian mau memanggilkan pimpinan DPR untuk menemui mereka yang sudah menunggu.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 24 September 2019 - 14:24 WIB
WowKeren - Ribuan mahasiswa menggelar aksi demo di depan gedung DPR. Mereka yang berasal dari berbagai universitas mendesak masuk ke gedung DPR untuk bertemu dengan pimpinan dewan.
Pagar pembatas berupa kawat berduri yang dipasang oleh aparat tampaknya tak menyurutkan niat mereka untuk merangsek masuk. Para mahasiswa tersebut nekat menggulungnya dan menerobos masuk.
Usai berhasil memanjat pagar, mahasiswa tersebut menggedor-gedor gerbang DPR RI. "Buka, buka, buka pintunya! Buka pintunya sekarang juga," kata mereka seperti dilansir dari CNN Indonesia.
Mahasiswa tersebut meminta agar pihak kepolisian mau memanggil pimpinan DPR untuk menemui massa yang ada di depan pintu. Mereka memberi batas waktu selama setengah jam. Jika dalam 30 menit pihak kepolisian tidak menyelesaikan tuntutan tersebut, maka mereka akan nekat masuk.
"Kita hitung sama-sama, sekarang pukul 12.43 WIB," kata orator aksi dari atas mobil komando. "Kalau 30 menit tidak ada, kami akan masuk!"
Situasi aksi mahasiswa ini mirip seperti yang dulu pernah terjadi pada tahun 1998. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh aktivis Ray Rangkuti.
"Soalnya saya melihat ghirah (semangat) mahasiswa saat ini seperti yang kita alami saat '98," kata Ray dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir dari Detik, Senin (24/9). "Merupakan dimana ada ungkapan enggak demo enggak keren. Suasana saat ini sama kayak '98. Jika ada kampus enggak bergerak itu akan di-bully."
Aktivis yang menjadi salah satu mahasiswa yang pernah ikut beraksi di tahun 1998 tersebut memandang bahwa apa yang dilakukan oleh mahasiswa itu adalah hal wajar. Mereka kecewa dengan Joko Widodo alias Jokowi yang seakan-akan "habis manis sepah dibuang".
"Saat ini mahasiswa kecewa karena Pak Jokowi itu habis manis sepah dibuang. Padahal masyarakat yang mendukung Jokowi dengan susah payah demi menegakkan prinsip-prinsip demokrasi dan pemberantasan korupsi," terang Ray. "Mereka rela di-bully bahkan sempat ada yang dikafirkan karena memilih Jokowi."
(wk/zodi)