105 Mahasiswa Dirawat Usai Demo Tolak RUU KUHP Ricuh Di Bandung
Nasional

Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di Bandung untuk menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK berujung dengan ricuh sehingga membuat puluhan mahasiswa haru dirawat.

WowKeren - Demonstrasi yang dilakukan berbagai mahasiswa di Bandung untuk menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK berujung dengan ricuh. Aksi unjuk rasa ini terjadi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung pada Selasa (24/9).

Tercatat sebanyak 105 mahasiswa dan dua siswa SMK harus menjalani perawatan setelah demo ini berakhir dengan ricuh. Para mahasiswa ini mendapatkan perawatan akibat luka-luka, sesak nafas, dan kelelahan setelah terlibat bentrok dengan aparat kepolisian.

Para mahasiswa yang menjadi korban luka-luka ini lantas mendapatkan perawatan di kampus Universitas Islam Bandung (Unisba). Sementara itu sebanyak enam mahasiswa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan serius usai luka-luka yang diderita cukup parah.

Kampus Unisba sendiri telah merilis data bahwa sebanyak 105 mahasiswa mendapatkan perawatan di aula kampus setelah aksi demo dibubarkan oleh tim aparat keamanan. Sementara sebanyak 2 pelajar SMK juga diketahui mendapatkan perawatan usai aksi tersebut.


Pihak dari Fakultas Kedokteran Unisba yaitu Yudi Periandi menjelaskan jika pihaknya memberikan perawatan kepada para mahasiswa dengan bantuan dari berbagai elemen. Bantuan yang didapatkan Unisba diperoleh dari beberapa KSR kampus dan petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Bandung. Menurut pengakuannya, beberapa mahasiswa yang mendapatkan perawatan rata-rata karena masalah sesak nafas akibat gas air mata, syok, mata pedih hingga memar.

"Kita cek pakai alat, tapi ada sekitar enam orang tadi itu kita rujuk ke rumah sakit karena tidak ada obat-obatan yang memadai," jelas Yudi Periandi pada Selasa (24/9). "Ada satu orang juga yang mengalami trauma di dada dan harus mendapatkan perawatan intensif."

Sementara itu, Wakil Rektor III Unisba Asep Ramdan Hidayat mengatakan jika perawatan terhadap para demonstran dilakukan secara sukarela. Hal ini juga dikarenakan letak dari Unisba sendiri yang menjadi titik evakuasi terdekat dari lokasi demonstrasi. Asep juga mengungkapkan jika ini sudah menjadi kewajiban kampus untuk menolong mahasiswa saat melakukan proses penyampaian pendapat.

"Intinya kami tidak menyiapkan secara khusus, namun kami berkewajiban memberikan pertolongan pertama kepada mahasiswanya yang menyelamatkan diri," kata Asep. "Ini adalah kewajiban intelektual. Saat mereka melihat apa yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan yang mereka pahami."

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait