BI menilai bukan hanya kondisi global saja yang bisa mempengaruhi nilai rupiah, namun juga gejolak domestik seperti aksi demo mahasiswa yang berlangsung selama berhari-hari.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 25 September 2019 - 20:57 WIB
WowKeren - Bank Indonesia mengungkap kekhawatiran mereka terhadap aksi demo mahasiswa yang hingga sekarang masih berlanjut. Di samping kondisi ekonomi dunia yang tengah bergejolak, situasi demo di dalam negeri juga berpotensi melemahkan nilai rupiah.
Pada Rabu (25/9), nilai tukar rupiah berada pada titik Rp 14.152 per dolar AS. Nilai ini melemah dari posisi sebelumnya sebesar 0,27 persen saat penutupan di hari sebelumnya, Selasa (24/9).
Padahal, rupiah sempat menguat ke level di bawah Rp 14.100. Bahkan dua pekan sebelumnya, rupiah semakin menunjukkan taringnya dengan berada di level Rp 13.900.
Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Sentimen global dan gejolak domestik sedikit banyak menimbulkan kegelisahan pasar sehingga hal tersebut berimbas pada pamor rupiah.
"Kami tahu juga ada concern domestik demo-demo yang kami lihat dua hari ini kok masih terus berlangsung," tutur Destry, Rabu (25/9). "Itu tentunya menimbulkan jittery (kegelisahan) juga di pasar finansial kita."
Aksi demo yang dimotori oleh mahasiswa telah terjadi selama tiga berturut-turut. Tak hanya di Jakarta, unjuk rasa juga berlangsung di kota-kota lainnya.
Mereka menuntut pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menunda rencana revisi beberapa Rancangan Undang-undang (RUU). Aksi pun juga diwarnai dengan kericuhan hingga memaksa aparat untuk menembakkan gas air mata.
Sementara itu, perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok hingga saat ini juga belum menemui titik terang. Meskipun kedua negara sudah merencanakan untuk menggelar perundingan, namun hal itu juga dipenuhi ketidakpastian. Ketidakpastian ini juga pastinya akan berimbas ke kondisi perekonomian RI.
"Pernyataan Trump sendiri terkait perang dagang makin lama makin tidak jelas juga," lanjut Destry. "Sehingga kami melihat risiko ketidakpastian di global semakin tinggi."
Sebelumnya terkait ketidakpastian ekonomi ini, Presiden Joko Widodo meminta Indonesia untuk waspada. Sebab, perang dagang global telah membuat sejumlah negara mengalami depresiasi nilai mata uang.
(wk/zodi)