DLH Ambil Sampel Api Tanah yang Diduga Limbah Jamu di Ponorogo
Nasional

Munculnya api dari dalam tanah yang berada di Dusun Ringinsurup, Desa Kupuk, Bungkal, Ponorogo menjadi viral di kalangan warganet. Menyikapi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup bergerak cepat untuk mengambil sampel tanah tersebut.

WowKeren - Baru-baru ini warganet dikejutkan dengan penemuan api yang keluar dari lahan seluas 70 meter persegi Dusun Ringinsurup, Desa Kupuk, Bungkal, Ponorogo. Api yang keluar dari dalam tanah tersebut sempat viral di media sosial.

Menurut salah satu warga setempat, Marmi (55) fenomena tersebut baru pertama kali terjadi di desanya. Api yang muncul ini juga sudah terjadi selama sebulan terakhir. "Satu bulan terakhir, baru ramai banyak orang satu minggu ini," terang Marmi dilansir Detikcom, Kamis (26/9).

Viralnya api yang keluar dari tanah tersebut membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergerak cepat dengan mengambil sampel tanah tersebut. Meski BPDP telah memadamkan dan melakukan pembasahan dengan 4 tangki air, hingga saat ini asap masih muncul dari rekahan tanah.


"Ini perlu uji lab tanah untuk memastikan apa kandungan yang terbakar," tutur Kepala DLH Ponorogo, Sapto Djatmiko, Jumat (27/9). Sapto mengamankan masih adanya asap dari dalam tanah bisa menandakan masih adanya api di dalam tanah. Yang terbakar diduga adalah ampas atau sampah limbah jamu. Karena bau dari asap itu beraroma rempah-rempah.

Namun, saat disinggung dengan kondisi tanah yang ambles akibat terbakar Sapto mengatakan jika keadaan itu tidak akan merembet ke tanah lain di sekitar lokasi. Warga sendiri khawatir tanah mereka ikut ambles karena lokasinya yang berdekatan. "Nggaklah merembet ke tempat lain, kalau tumpukan sampah hanya di lokasi ini ya berarti di sini," imbuhnya.

Sapto juga meyakinkan kepada warga sekitar jika kejadian ini aman dan tidak membahayakan. Namun tetap perlu diwaspadai khawatir ada orang yang terjebak di dalam rekahan yang ada apinya. "Aman, api bukan dari alam tapi dari sampah di dalam tanah, perlu uji lab untuk mengetahui kandungan apa yang terbakar," pungkasnya.

Sebelumnya, diketahui jika tanah milik Bonatun tersebut awalnya dimiliki oleh orang yang menggunakan lahannya sebagai bahan baku pembuatan genting. Lalu pada tahun 2011-2013 kepemilikan tanah berganti ke Kasemi yang memanfaatkan tanah ini untuk membuang ampas atau sisa perasan jamu.

Pada lahan seluas 70 meter persegi itu terdapat 19 rekahan yang mengeluarkan api. Di mana tiap rekahan memiliki kedalaman mencapai 30 cm. Seiring dengan waktu ketinggian tanah pun menurun dan sebelum dipadamkan ada 12 rekahan.

(wk/wahy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait