Sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam seperti PA 212 dan FPI menggelar aksi bertajuk 'Mujahid 212 Selamatkan NKRI' pada Sabtu (28/9). Setidaknya ada 4 tuntutan yang hendak mereka suarakan dalam aksi.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 28 September 2019 - 09:59 WIB
WowKeren - Gelombang demonstrasi di Indonesia tampaknya belum berakhir. Setelah mahasiswa, kali ini giliran Persaudaraan Alumni (PA) 212, Front Pembela Islam (FPI), dan ormas-ormas Islam yang berniat untuk menggelar aksi. Bertajuk "Mujahid 212 Selamatkan NKRI", aksi ini akan digelar di depan Istana Negara pada Sabtu (28/9).
Dilansir dari Detik News, massa aksi terpantau sudah bergerak ke Istana Negara. Mereka melakukan long march dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat pada pukul 08.00 WIB tadi.
Sambil berjalan menuju Istana Negara, massa kompak menyerukan takbir dan selawat. "Allahuakbar!" seru massa.
Namun perjalanan mereka rupanya tertahan oleh barikade yang dipasang kepolisian di kawasan Patung Kuda, Jakarta. Terpantau beberapa alat pertahanan kepolisian dipasang di situ, seperti kawat berduri, tiga water cannon, satu kendaraan barracuda, dan satu mobil raisa.
Kendati demikian, situasi di lokasi terpantau masih kondusif. Sejumlah massa tampak duduk-duduk di trotoar jalan sekitar. Sementara itu, Ketua Panitia Aksi Mujahid 212, Edy Mulyadi, sudah berada di atas mobil komando untuk menyerukan orasinya.
Menurut salah seorang orator, kawasan Patung Kuda akan menjadi lokasi tempat mereka menyampaikan orasi. Orator pun terlihat terus menyemangati massa.
"Alhamdulillah kita sudah sampai di tempat Patung Kuda yang insya Allah menjadi tempat penyampaian," ujar orator. "Kebakaran hutan, hutan sengaja dibakar. Ketidakpastian hukum, hukum hanya jadi (milik) sekelompok orang, bukan jadi (milik) semua orang. Ini jadi keprihatinan kita!"
Sedianya aksi ini digelar untuk menyampaikan sejumlah aspirasi. Seperti tindakan represif aparat dalam menangani demonstrasi mahasiswa selama beberapa hari belakangan. Bahkan tindakan represif tersebut diketahui telah menyebabkan dua orang mahasiswa di Sulawesi Tenggara meninggal dunia.
Selain itu, peserta aksi juga mengkritik pemerintah yang dinilai lamban dalam menangani masalah kebakaran hutan dan lahan. Serta yang terakhir mengkritik soal kerusuhan di Papua.
(wk/elva)