Kerusuhan di Wamena, Papua pada Senin (23/9) lalu menyebabkan sejumlah dampak negatif. Salah satunya adalah pengerjaan jalan Trans-Papua yang harus dihentikan demi faktor keamanan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 03 Oktober 2019 - 14:50 WIB
WowKeren - Sejumlah kerusuhan terjadi di tanah Papua sejak Agustus silam. Yang terbaru adalah kerusuhan di Wamena hingga berujung pada meregangnya puluhan nyawa.
Tak hanya itu, kerusuhan Wamena juga berdampak pada eksodusnya sejumlah besar masyarakat dari daerah tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Wamena demi menyelamatkan diri.
Yang terbaru, kerusuhan Wamena rupanya juga membuat pembangunan infrastruktur jadi terhambat. Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah XVIII Jayapura menyatakan proses pengerjaan jalan Trans-Papua di Pegunungan Tengah akan dihentikan sementara. Faktor keamanan menjadi alasan utama pihak BBPJN menghentikan proyek tersebut.
"Memang benar, hingga kini pengerjaan jalan Trans-Papua dihentikan," ujar Kepala BBPJN XVIII Jayapura, Osman Marbun, Kamis (3/10). "Karena faktor keamanan."
Menurutnya, penangguhan proses pengerjaan jalan ini sudah berlangsung sejak pertengahan Agustus 2019 lalu. Dan hingga kini belum ada keterangan pasti kapan proyek akan dilanjutkan.
"Awalnya pengerjaan jalan dihentikan sekitar 19 Agustus," kata Osman, dilansir dari laman Republika. "Namun berlanjut terus hingga saat ini."
Oleh karena itulah, Osman mengaku akan melakukan evaluasi terhadap pengerjaan jalan secara keseluruhan agar tidak terkena penalti. Selain itu, pihaknya juga akan menentukan ruas mana yang akan dilanjutkan dan mana yang akan ditunda pengerjaannya.
Lebih detail, ruas jalan di kawasan pantai, menurutnya tak ada masalah sehingga bisa diteruskan. Namun sejumlah ruas seperti Oksibil-Jayapura, Wamena-Jayapura, atau Mulia-Wamena akan dihentikan sementara.
"Pengerjaan jalan dilaksanakan dari dua arah," pungkas Osman. "Seperti ruas Oksibil-Jayapura juga dilaksanakan ruas Jayapura-Oksibil."
Di sisi lain, kepolisian pun terus melakukan penyelidikan untuk mengusut tuntas kerusuhan ini. Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw mengungkapkan duguaan pemicu serangkaian kerusuhan tersebut.
Menurutnya informasi hoaks yang marak beredar di media sosial adalah pemicu kerusuhan yang terjadi. Ia turut menyinggung perihal isu rasisme yang terjadi di Surabaya pertengahan Agustus lalu.
"Sekarang luar biasa karena dampak dari perkataan rasis yang dilemparkan di Surabaya tanggal 15 Agustus kalau tidak salah, itu merangkai dari Malang kemudian tanggal 17 (Agustus) terjadilah viral berita hoaks itu, berita yang menghebohkan," kata Paulus di Hotel Greenalison, Sentani, Papua, Selasa (1/10). "Sekarang kita rasakan dampaknya."
(wk/elva)