Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengakui jika tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah dibanding lima tahun sebelumnya.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 04 Oktober 2019 - 11:27 WIB
WowKeren - Selama lima tahun Presiden Joko Widodo alias Jokowi memimpin Indonesia bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Indonesia dinilai belum pernah mencapai target pertumbuhan ekonomi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan untuk sektor ekonomi, capaian selama lima tahun adalah 50:50.
Bambang menuturkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama lima tahun terakhir hanya berada di kisaran 5 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan RPJMN lima tahun sebelumnya.
"Untuk pertumbuhan ekonomi, kita lihat rata-rata pertumbuhan ekonomi selama lima tahun ini di seputaran 5 persen," ujar Bambang di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/10). "Memang lebih rendah dibandingkan RPJMN lima tahun sebelumnya yang rata-ratanya itu mendekati 5,5-6 persen."
RPJMN mencakup lima sektor yang menjadi target pemerintah. Adapun kelima sektor tersebut adalah perkembangan ekonomi, pembangunan manusia dan masyarakat, pengembangan sektor unggulan, pemerataan dan kewilayahan, serta pembangunan politik hukum pertahanan keamanan.
Kondisi perekonomian dunia yang tengah bergejolak sedikit banyak telah mempengaruhi perekonomian Indonesia. Alhasil, tak sedikit target RPJMN yang meleset. Meski hanya lima persen, Bambang menegaskan bahwa angka itu sudah cukup tinggi bagi Indonesia.
"Akibatnya kita tumbuh di seputar 5 persen yang mungkin dianggap lebih rendah," tutur Bambang. "Tapi paling tidak ini termasuk yang relatif tinggi untuk ekonomi sebesar Indonesia, di bawah negara seperti China dan India tapi di atas masih banyak negara lainnya."
Sementara itu, terkait inflasi, terus mengalami penurunan seperti yang ditargetkan. Begitu pula dengan penciptaan lapangan kerja. Bambang mengklaim bahwa jumlah pengangguran terus mengalami penurunan.
"Dari lima dimensi, dimensi ekonomi mungkin yang paling berat karena pencapaiannya 50-50 antara yang tercapai dengan yang sulit tercapai. Salah satu yang tercapai misalkan terkait inflasi, tingkat pengangguran terbuka, terkait dengan penyediaan lapangan kerja," jelas Bambang. "Yang sulit tercapai terkait pertumbuhan ekonomi atau tax ratio yang masih di bawah sasaran atau target."
(wk/zodi)