Menag Fachrul berharap agar imam-imam masjid bisa sejalan dengan pemerintah yang tengah memerangi radikalisme dan meminta agar pihak-pihak lain tak memperdebatkan soal khilafah.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 31 Oktober 2019 - 07:25 WIB
WowKeren - Menteri Agama Fachrul Razi mengungkapkan pandangannya soal sistem khilafah. Purnawirawan TNI tersebut menegaskan bahwa sistem khilafah tidak boleh ada di Tanah Air.
"Saya sudah mulai lakukan secara tegas kita katakan khilafah tidak boleh ada di Indonesia," jelas Fachrul dalam sambutannya di Lokakarya Peran dan Fungsi Imam Masjid di Jakarta Pusat pada Rabu (30/10). "Memang kalau ngomong khilafah ini kan kalau dilihat dari aspek-aspek Alquran atau hadis-hadis dan lain sebagainya memang kontroversial."
Menurut Fachrul, pemerintah kini solid untuk melawan radikalisme. Selain itu, Fachrul juga akan aktif memberi masukan soal gerakan pro khilafah.
Hal ini termasuk dalam tindakan memerangi radikalisme pro khilafah. "Dan mungkin nanti aparat hukum yang akan mengeluarkan keputusan," tutur Fachrul.
Oleh sebab itu, Fachrul berharap agar imam-imam masjid bisa sejalan dengan pemerintah. Ia juga meminta agar pihak-pihak lain tak memperdebatkan soal khilafah yang dinilainya memiliki banyak mudarat.
"Kalau diperdebatkan tidak akan ada kesepakatannya, tapi buat kita kemudaratannya lebih banyak daripada manfaatnya," ungkap Fachrul. "Dimana di muka bumi ini yang sekarang sudah negaranya nation state, negara berdaulat, pasti tidak akan ada yang menerima khilafah. Dianggap saja dia (khilafah) jadi musuh semua negara."
Dalam kesempatan tersebut, Fachrul juga sempat mengungkapkan kemarahannya kepada pendakwah-pendakwah yang membodohi umat. Ia meminta agar dakwah yang disampaikan bersifat mencerdaskan umat, bukan sebaliknya.
Salah satu contoh yang pernah ia dengar adalah penceramah yang menyebut Aceh mengalami bencana alam karena masyarakatnya memiliki banyak dosa. Padahal, tutur Fachrul, Aceh memang masuk ke wilayah yang rawan bencana.
"Kenapa dia enggak cerita Aceh ini memang termasuk yang rawan gempa, karena ada lempeng-lempeng buminya yang tumpang tindih satu sama lain dan sangat mudah berubah, lain dengan misalnya Kalimantan, tidak ada lempeng-lempeng bumi yang dekat dengan pulau sehingga relatif lebih aman," pungkas Fachrul. "Namun demikian, sebagai hamba Tuhan, kita wajib berdoa mudah-mudahan tidak terulang kembali dan bencana ini cepat selesai. Itu artinya mencerdaskan umat, bukan membodohi umat."
(wk/Bert)