Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Timur Yohana menilai pembangunan PLTA Sungai Kayan sebaiknya menggunakan rekomendasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang bersifat khusus.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 15 November 2019 - 10:38 WIB
WowKeren - Tak sedikit yang harus disiapkan ketika pemerintah mulai merencanakan pemindahan ibu kota ke luar Jakarta. Sebelum ibu kota pindah, harus dipastikan bahwa di lokasi yang baru segala kebutuhan bisa dipenuhi, tak terkecuali kebutuhan listrik.
Untuk menyuplai listrik di ibu kota baru, pemerintah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sayangnya, pembangunan bendungan untuk PLTA tersebut justru dikhawatirkan akan berdampak serius pada ekosistem di sana.
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Timur menyatakan bahwa rencana pembangunan bendungan untuk pembangkit Listrik tenaga air (PLTA) Sungai Kayan berpotensi menenggelamkan dua desa, yakni desa Long Lejuh dan Long Peleban, Kecamatan Peso Bulungan. Tak hanya menenggelamkan desa, pembangunan bendungan tersebut juga berpotensi menenggelamkan hutan primer.
"Selain itu ada juga lima desa lainnya yang akan berdampak serius karena akan dibangun DAM yang lainnya," kata Direktur Walhi Kalimantan Timur Yohana Tiko di Samarinda, Rabu (13/11). "Dan akan menenggelamkan hutan primer dan ruang hidup masyarakat lokal di sepanjang aliran sungai Kayan yang panjangnya 576 kilometer dengan sekitar dua puluh desa."
Menurut Yohana, pembangunan PLTA Sungai Kayan sebaiknya menggunakan rekomendasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang bersifat khusus. Sebab ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Yohana berharap agar pembangunan bendungan untuk PLTA tersebut tak mengabaikan aspek lingkungan dan juga masyarakat di sekitarnya. Saat ini, ia mengatakan bahwa proyek pembangunan bendungan PLTA Sungai Kayan sudah masuk tahap pengerukan sungai.
"KLHS seharusnya menyeluruh dari hulu ke hilir," tegas Yohana. "Bukan sekedar diatas lahan yang akan dibendung."
Beberapa waktu lalu, soal pembangunan PLTA Sungai Kayan sempat disinggung oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Ia mengatakan bahwa PLTA tersebut bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar sehingga mampu menyuplai kebutuhan di ibu kota baru.
Di lain sisi, Yohana menilai pembangunan PLTA tak semata-mata untuk kebutuhan masyarakat. "Proyek ini sebenarnya bukan hanya untuk kebutuhan energi masyarakat tetapi ini kebutuhan mega industri di Kalimantan," ujar Yohana.
(wk/zodi)