Heboh Teror Pelemparan Sperma di Tasikmalaya, Ini Kata Komnas Perempuan
Nasional

Aksi pelaku teror pelemparan sperma ini telah diunggah oleh seorang pria berinisial RF dan menjadi viral. RF membagikan kisah yang menimpa istrinya, LR, yang menjadi korban teror pelemparan sperma tersebut.

WowKeren - Para wanita di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, dibuat resah dengan aksi teror cabul yang diduga telah beberapa kali terjadi. Dalam aksi teror tersebut, seorang pria dengan sengaja melempar sperma kepada korban.

Menanggapi aksi teror menyerahkan tersebut, Komnas Perempuan pun buka suara. Menurut Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni, teror tersebut masuk ke dalam bentuk ekshibisionisme yang agresif.


"Jadi ini semakin beragam dan macam-macam, jadi kalau ekshibisionisme biasanya tidak senekat itu, rata-rata mereka duduk di satu tempat orang yang melihat, kalau ini kan mendatangi," terang Wahyuni dilansir detikcom pada Senin (18/11). "Jadi semakin agresif dan lebih aktif bentuknya."

Wahyuni menjelaskan bahwa ekshibisionisme adalah kelainan seksual dan termasuk dalam kategori pelecehan seksual. Ia menyebut bahwa dalam ekshibisionisme, para pelaku akan merasa puas apabila korban merasa ketakutan.

"Pertama itu kan kalau yang mempertunjukkan alat kelamin bagian dari ekshibisionisme, kalau dalam kategori psikologi itu bagian dari sesuatu yang tidak sehat. Kalau itu pasti masuk dalam kategori pelecehan seksual," terang Wahyuni. "Di beberapa pengalaman ada satu kepuasan tersendiri buat pelaku kalau kemudian para korban perempuan yang dipertontonkan itu, atau yang disasar untuk dipertontonkan itu merasa ketakutan, jadi fantasi seksualnya bisa diekspresikan dengan seperti itu."

Wahyuni menilai bahwa terdapat relasi kuasa dalam aksi teror pelemparan sperma. Ia juga kembali menyebut bahwa pelaku akan merasa puas apabila korban ketakutan.

"Terkait dengan pelemparan sperma ini memang perkembangannya jadi macam-macam, biasanya ini jadi dibarengin ingin mempertontonkan ada relasi kuasa di situ 'ini loh aku mampu', menunjukkan bahwa ini aku punya sperma, aku punya alat kelamin, punya penis," tutur Wahyuni. "Jadi ada suatu kepuasan sendiri dan kalau korbannya takut itu semakin puas."

Selain itu, Wahyuni juga menilai apabila kasus teror ini kembali terjadi, maka sebaiknya bukti yang dimiliki korban digunakan untuk melapor ke polisi. Ia menyebut bahwa bukti berupa foto pelaku tidak perlu sampai diviralkan, pasalnya hal tersebut dapat masuk ke dalam UU ITE.

"Kalau kemudian itu difoto kemudian dipakai alat bukti untuk laporan polisi, itu relatif lebih pas atau lebih tepat. Tapi kalau kemudian itu diviralkan tujuannya untuk apa?" pungkas Wahyuni. "Mungkin untuk penjeraan atau sebagainya. Tapi perlu dipikirkan juga, kalau nanti wajah dan sebagainya bisa jadi bisa kena UU ITE. Jadi itu yang perlu dipikirkan buat para korban, jadi melapor saja dengan berbagai peluang bukti."

Sebelumnya, aksi pelaku teror pelemparan sperma ini telah diunggah oleh seorang pria berinisial RF pada Kamis (13/11) pekan lalu dan menjadi viral. RF membagikan kisah yang menimpa istrinya, LR, yang menjadi korban teror pelemparan sperma tersebut.

You can share this post!

Related Posts
Loading...