Menteri Agama Fachrul Razi membagikan cerita yang ia dapatkan tentang pekerja di instansi pemerintah yang siap menjadi pelaku bom bunuh diri. Hal tersebut disampaikan Fachrul di acara Sarasehan Bintalad TA 2019 pada hari ini (20/11).
- Bertilia Puteri
- Rabu, 20 November 2019 - 14:18 WIB
WowKeren - Masyarakat Indonesia baru saja dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Polrestabes Medan pada Rabu (13/11) pekan lalu. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi lantas membagikan cerita yang ia dapatkan tentang pekerja di instansi pemerintah yang siap menjadi pelaku bom bunuh diri.
Hal tersebut disampaikan Fachrul pada saat memberi sambutan di acara Sarasehan Bintalad TA 2019 pada hari ini (20/11). Fachrul menyebut pelaku aksi tersebut sebagai "pengantin".
"Saya masih ingat salah satu teman, pimpinan di sebuah instansi yang hukum juga, mengatakan kepada saya, mohon maaf di depan sidang kabinet terbatas," tutur Fachrul. "'Pak, kalau di saya, harus saya akui, malah ada yang sudah siap menjadi 'pengantin' dan malah perempuan lagi'."
Meski demikian, Fachrul menjelaskan bahwa aksi tersebut dapat diungkapkan sebelum terjadi. Meski enggan mengungkap instansi pemerintah mana yang dimaksudnya, Fachrul merasa bersyukur lantaran hal tersebut dapat memunculkan kondisi yang berbahaya apabila tidak terungkap.
"Untung terungkap. Kalau nggak terungkap, bagaimana bahayanya," ujar Fachrul. "Dia berada di lingkaran dekat kita, tahu-tahu dia siap jadi 'pengantin'."
Selain itu, Fachrul juga memberikan analogi terkait "pengantin" tersebut. Menurutnya, orang-orang di sekitar bisa saja tidak sadar lantaran para pelaku adalah orang yang mereka kenal.
"Mungkin kita lihat dia dadanya keliatan membusung, seksi, padahal di dalam dadanya itu mungkin ada sesuatu yang disembunyikan," terang Fachrul. "Tiba-tiba meledak di dekat pimpinan."
Tak hanya itu, Fachrul juga sempat menyinggung pernyataan mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu soal radikalisme. Menurut Ryamizard, kurang lebih ada 3 persen anggota TNI yang terpapar paham radikal. Oleh sebab itu, Fachrul meminta agar pernyataan tersebut menjadi peringatan untuk TNI agar terus berupaya menangkal paham radikal di lingkup internalnya.
"Jadi enggak usah juga kita mengatakan kita bersih," pungkas Fachrul. "Jadi saya sependapat peringatan Menhan atau mantan Menhan itu hendaknya jadi kewaspadaan kita bersama."
(wk/Bert)