Pidato Mendikbud Nadiem Makarim untuk memperingati Hari Guru Nasional pada Senin (25/11) ternyata tak melulu menuai pujian kendati dinilai berbeda. Pasalnya ada 1 topik yang dinilai alpa dari pidato Nadiem tersebut.
- Elvariza Opita
- Senin, 25 November 2019 - 11:36 WIB
WowKeren - Peringatan Hari Guru Nasional jatuh pada hari ini, Senin (25/11). Media sosial pun diramaikan dengan cuitan warganet soal jasa-jasa guru yang luar biasa besar. Namun tak hanya itu, diketahui media sosial juga ikut diramaikan dengan transkrip pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Sebagai pengingat, naskah pidato yang diunggah Kemendikbud sejak Jumat (22/11) lalu itu memang sukses menarik perhatian masyarakat. Pasalnya isinya dianggap begitu berbeda dan memberikan secercah harapan soal masa depan pendidikan Indonesia.
Namun demikian, isi pidato yang sukses menuai pujian setinggi langit itu rupanya juga mendapat kritikan keras. Adalah Forum Honorer Indonesia yang mengkritik sang menteri lantaran tak menyinggung perihal nasib guru honorer di naskah pidatonya.
Ketua Dewan Pembinaan FHI, Hasbi, menilai Nadiem belum menunjukkan komitmen untuk menyejahterakan guru honorer. Selain itu, Nadiem juga tak menyinggung soal tata kelola guru dan perbaikan kurikulum pendidikan.
"Pemerintah alpa menghadirkan kebijakan yang humanis dan menyejahterakan untuk guru honorer dan tenaga honorer kependidikan," ujar Hasbi, Senin (25/11). "Padahal baik guru PNS dan guru honorer, mereka agen-agen perubahan dalam menjalankan posisi strategis pembangunan SDM Indonesia. Mereka tulang punggung dan garda terdepan mencerdaskan kehidupan bangsa."
Lebih lanjut, menurut Hasbi, guru merupakan profesi dengan tugas yang begitu kompleks. Sumber daya manusia untuk membangun peradaban modern tak lepas dari peran tenaga pendidik, termasuk guru honorer.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menjadikan perihal tata kelola guru sebagai agenda penting dan mendesak. Terutama menyangkut status dan kesejahteraan guru honorer. "Ketika hak hidup guru honorer tak mencukupi, mubazir berbicara profesional," tuturnya, dilansir dari laman JPNN.
"Jika pemerintah mengharapkan lahirnya SDM unggul, tetapi alpa menghadirkan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer," imbuhnya tegas. "Alpa menghadirkan perlindungan hukum, jaminan kesehatan dan peningkatan SDM guru, bagaimana bisa itu tercapai?"
(wk/elva)