Naskah pidato Nadiem Makarim yang dibacakan pada Hari Guru Nasional (25/11) lalu menjadi 'korban' revisi warganet ini. Berbekal 'tinta merah', ia menumpahkan kritikannya terhadap isi pidato Nadiem tersebut.
- Elvariza Opita
- Kamis, 28 November 2019 - 15:34 WIB
WowKeren - Pekan lalu dunia maya dibuat heboh dengan beredarnya naskah pidato untuk menyambut Hari Guru Nasional 2019 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Pidato itu sukses menarik perhatian massa karena isinya yang dianggap "anti-mainstream".
Pujian setinggi langit pun diarahkan oleh masyarakat kepada sang menteri. Namun demikian, rupanya ada pihak yang mengkritik isi pidato tersebut, bahkan sampai nekat mencoret-coretnya.
Tentu bukan naskah asli Nadiem yang dicoret-coret, namun tangkapan layar isi pidato itu yang tersebar di media sosial. Berikut naskah pidato Nadiem yang telah dicoret-coret warganet tersebut, selayaknya dosen merevisi naskah skripsi mahasiswanya.
Adalah seorang Pegawai Negeri Sipil bernama Ahmad Taufiq yang dengan berani merevisi isi naskah tersebut. Menurutnya isi pidato Nadiem sejatinya tak jauh dari retorika belaka. Apa yang ia sampaikan, sambung Taufiq, merupakan bentuk kritikannya sebagai seorang ayah yang kerap bersinggungan dengan peraturan sekolah masa kini.
Kendati isi pidato itu cukup mengena, Taufiq menyayangkan Nadiem yang justru terkesan lepas tangan dan tak memberi solusi konkret. Padahal sebagai Mendikbud, Nadiem punya kewenangan yang cukup untuk mengubah situasi yang ada.
"Beliau bisa saja langsung mengambil langkah konkret," ujar Taufiq, dikutip dari Medcom.id, Kamis (28/11). "Dengan merombak habis-habisan dunia pendidikan."
Selain itu, perkara kesejahteraan guru, terutama kaum honorer, memang alpa disampaikan oleh Nadiem. Itu pula yang membuat Taufiq "gatal" ingin mengkritik.
Lebih lanjut, menurutnya semangat yang coba Nadiem sampaikan di pidatonya justru terkesan mendelegitimasi peran negara di bidang pendidikan. Tak main-main, Taufiq bahkan menyebut Nadiem sebagai humblebrag alias menyombongkan diri secara terselubung.
"Jadi agak geli saja kalau pejabat negara, yang paling punya kuasa, justru mempromosikan semangat DIY," tuturnya. "Apakah Pak Nadiem juga mau mendelegitimasi dirinya dan lembaga yang dipimpinnya sendiri."
"Jika beliau tak menyampaikan komitmennya sebagai seorang decision maker, seorang menteri, untuk mengubah itu," imbuhnya. "Alih-alih semacam itu, beliau justru membiarkan guru-guru melakukan inovasi sendiri. Lantas buat apa? Sekadar curhat?"
(wk/elva)