Pengakuan Seorang Jurnalis Indonesia Dipaksa Bugil Saat Ditahan Imigrasi Hong Kong
Nasional

Simak pengakuan seorang jurnalis asal Indonesia yang dipermalukan oleh pihak aparat Imigrasi di Hong Kong dengan dipaksa untuk bugil sebelum akhirnya dideportasi.

WowKeren - Seorang asisten rumah tangga sekaligus jurnalis asal Indonesia, Yuli Rismawati (39) membeberkan pengalaman pahitnya saat berada di Hong Kong. Kala itu, Yuli dipermalukan oleh aparat Imigrasi Castle Peak Bay Hong Kong (CIC) sebelum dideportasi.

Yuli mengatakan jika ia ditahan pihak imigrasi Hong Kong sejak 4 November lalu. Penahanannya oleh pihak imigrasi Hong Kong disebutkan atas alasan masa berlaku visanya yang telah habis sejak 27 Juli silam.

Yuli mengaku ia sangat depresi saat menjalani penahanan selama 29 hari di kantor imigrasi Hong Kong. Dia juga membeberkan jika dirinya telah dipaksa untuk membuka seluruh pakaiannya di hadapan seorang dokter lelaki dengan alasan untuk pemeriksaan petugas.

Yuli mengungkapkan perasaannya kala itu dimana ia begitu ketakutan setelah dipaksa bugil di depan seorang lelaki. Sebagai seorang muslim, ia merasa begitu dipermalukan akibat peristiwa pelecehan oleh pihak imigrasi Hong Kong tersebut yang semena-mena.


"Mereka (petugas imigrasi) memerintahkan saya untuk membuka baju dengan alasan pemeriksaan kesehatan," cerita Yuli seperti dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (7/12). "Saya langsung ketakutan ketika tahu bahwa dokter yang memeriksa ternyata lelaki."

"Dalam keyakinan Islam, tubuh seorang perempuan haram dilihat oleh lelaki di luar keluarganya," sambungnya. "Namun, mereka memaksa saya untuk membuka baju. Saya muslimah. Sangat memalukan melakukan hal itu di hadapan lelaki."

Pengakuan ini disampaikan Yuli di sela-sela aksi unjuk rasa warga Hong Kong yang mendukungnya pada akhir pekan lalu. Para peserta aksi damai juga sempat meneriakkan slogan "Kami Mendukung Yuli" yang membuatnya terbata-bata hingga menangis saat menyampaikan ceritanya.

Yuli lantas mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para pendukung dengan menyebut mereka semua merupakan satu keluarga. Ia lantas berpesan kepada para peserta aksi damai agar juga mendukung teman-temannya. Menurut Yuli, saat ini banyak warga minoritas tepatnya dari warga negara lain yang juga mengalami pelecehan oleh pihak imigrasi Hong Kong.

"Kita saat ini seperti satu keluarga. Saya harap kalian bisa mendukung seluruh teman-teman saya," kata Yuli dengan bahasa Kanton. "Banyak warga minoritas yang dilecehkan di CIC."

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait