Menag Fachrul Razi baru-baru ini mengungkapkan jika materi soal khilafah akan dipindahkan ke mata pelajaran sejarah. Rupanya, rencana Menag tersebut mendapatkan penolakan dari PBNU.
- Nidya Putri
- Rabu, 11 Desember 2019 - 11:52 WIB
WowKeren - Meteri Agama (Menag) Fachrul Razi sempat mengatakan akan menghapuskan dan merombak pelajaran Kilafah dan Jihad dalam pelajaran agama Islam. Menurutnya, khilafah seringkali disalahpahami oleh siswa dan juga guru.
Namun, baru-baru ini Fachrul memastikan jika tidak ada penghapusan materi khilafah dan jihad dalam mata pelajaran agama Islam. Ia mengatakan bahwa Kementerian Agama hanya akan melakukan pemindahan materi khilafah dan jihad dari mata pelajaran fiqih ke sejarah.
Rupanya, wacana pemindahan materi ini mendapat respon dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurut mereka, masih banyak konten yang lebih baik untuk dimasukkan ke dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dibanding materi soal khilafah.
Ketua Pengurus Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas mengatakan kisah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban Islam lebih layak masuk ke buku-buku pelajaran madrasah. "Lebih bagus lagi kajian sejarah dengan titik tekan sejarah pembangunan peradaban manusia," kata Robikin dalam keterangan tertulis, Selasa (10/12). "Bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat yang sebelumnya dikenal tidak beradab (jahiliyah) menjadi masyarakat yang sangat beradab."
Selain itu, ia juga mencontohkan kisah Rasulullah SAW saat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di mana pada saat itu Nabi mengajarkan toleransi dengan tidak memaksa masyarakat Madinah yang plural untuk memeluk agama Islam.
Robikin kembali mengatakan jika mata pelajaran soal sejarah perlu lebih menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang sukses menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan, bukan sumber konflik dan permusuhan. "Nabi tidak menanamkan benih kebencian dan permusuhan," tuturnya. "Nabi bahkan mengasihi orang yang mencelanya. Peradaban manusia dibangun atas dasar sikap kasih sayang."
Ia juga menambahkan dengan menyampaikan dan memperbanyak kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dalam pelajaran sejarah maka dapat menanamkan jiwa menghargai keberagaman untuk generasi muda. "Melalui pendidikan sejarah hal-hal seperti itu perlu diintrodusir," ucap Staf Khusus Wakil Presiden tersebut.
(wk/nidy)