Tol layang Jakarta-Cikampek (Japek II) dinilai tak berhasil mengurangi kemacetan, bahkan para pengendara pun mengungkapkan keluhannya di media sosial. Hal ini rupanya mendapatkan perhataian dari Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
- Nidya Putri
- Jumat, 20 Desember 2019 - 14:36 WIB
WowKeren - Tol layang Jakarta-Cikampek atau Japek II telah dibuka untuk umum pada Minggu (15/12) lalu. Namun belum sampai seminggu diresmikan, jalan tol tersebut rupanya menuai banyak kritikan dari para pengendara.
Mulai dari sambungan jembatan yang tidak nyaman untuk dilewati, jalan bergelombang, jalan aspal ada genangan air, hingga kemacetan jalan. Bahkan tak sedikit dari pengendara yang mengeluarkan keluh kesahnya di media sosial seperti Twitter.
Sama seperti postingan @kenapalucky yang turut menyerukan keluhannya di Twitter karena tol yang belum beroperasi 1 minggu itu macet. "Nyobain tol layang japek. Malah kena macet," tulisnya pada keterangan foto keadaan jalan tol yang macte.
Merespon keluhan-keluhan tersebut, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Danang Parikesit pun mengatakan bahwa masyarakat masih memiliki jalan alternatif. Jika Japek II macet, masyarakat bisa memilih Tol Japek yang di bawahnya.
"Silahkan lewat bawah saja," kata Danang Parikesit kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/12) malam. Menurutnya, kepadatan Tol Japek sudah berkurang sebanyaka 30-40 persen sejak adanya tol layang.
"Kan yang bawah sudah semakin lancar. Nanti ada data evaluasi," bebernya. Sebelumnya, beroperasinya tol ini dinilai mampu untuk mengurangi kemacetan yang ada di jalur bawah.
Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga (JSMR) Desi Arryani mengatakan jika lonjakan penumpang sudah mulai terasa di Japek II. Sehingga berdampak pada berkurangnya volume kendaraan di jalur bawah tol Jakarta-Cikampek.
"Sejak 15 September animo masyarakat ke tol Japek sesuai estimasi kita. Hari minggu (15/12) 33% naiknya (Tol) elevated," terang Desi dilansir CNBC Indonesia, Rabu (18/12). "Di bawah jadi lancar. Senin (16/12) juga berkisar 30-an%. Jadi memang sesuai analisa kita kami."
(wk/nidy)