Radiasi yang ditimbulkan oleh peristiwa gerhana matahari cincin bisa sangat membahayakan mata sehingga berpotensi menyebabkan kebutaan oleh sebab itu diperlukan alat khusus jika ingin mengamatinya.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 24 Desember 2019 - 15:31 WIB
WowKeren - Fenomena gerhana matahari cincin diperkirakan akan terjadi pada Kamis (26/12). Di Indonesia, fenomena ini bisa diamati secara menyeluruh di enam provinsi mulai pukul 12.15 WIB dan akan memasuki fase puncak pada 12.17 WIB.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan memprediksi lokasi ideal untuk mengamati fenomena ini adalah kabupaten Siak, Riau. Meski demikian, LAPAN menyarankan agar fenomena alam ini tidak dilihat dengan mata telanjang.
Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto. Rhorom menyatakan bahwa meskipun saat gerhana matahari tertutup bulan namun radiasi yang ditimbulkan cukup berbahaya bagi mata.
"Tidak disarankan dilihat dengan mata telanjang," kata Rhorom dilansir Republika, Selasa (24/12). "Karena meskipun matahari tertutup bulan saat itu cahayanya masih menyilaukan. Yang paling aman adalah menggunakan kacamata matahari atau filter matahari."
Sejumlah daerah di Indonesia rencananya akan menjadikan fenomena gerhana matahari sebagai momen edukasi dan kemeriahan. Di Padang Sidempuan, Sibolga, Siak, Duri, Pulang Pedang, Pulau Bengkalis, Pulau Tebing Tinggi, Pulau Rangsang, Batam, Tanjung Pinang, Singkawang, Makulit, Tanjung Selor, dan Berau.
Yang menjadikan fenomena ini istimewa adalah bahwa kejadian alam tersebut tidak terjadi setiap tahun. Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan baru, yang sedikit lebih jauh dari Bumi dan tampak lebih kecil di langit, akan menutupi 97 persen cakram Matahari saat berada dalam garis lurus atau sejajar.
Intensitas cahaya matahari yang dihasilkan akan sangat kuat hingga berpotensi merusak mata dan menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu, LAPAN menyarankan untuk menggunakan alat pelindung khusus saat melihat fenomena tersebut. Selain kacamata dengan filter matahari, bisa juga digunakan kamera lubang jarum, teropong atau teleskop, dan kamera DSLR dengan filter khusus matahari.
Gerhana matahari cincin memang sering terjadi bahkan bisa mencapai dua kali dalam setahun. Namun karena lintasannya berbeda maka daerah yang dilalui juga tidak sama. "Di Indonesia sebelumnya terjadi pada 1998, kemudian 2009, kemudian di akhir tahun ini," kata Ketua LAPAN Thomas Djamaludin.
(wk/zodi)